Powered by Blogger.

Saur Koramil Pacet: Tos Teu Zaman Taun Baruan Nyeuneut Kembang Api Sareng Maksiat

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Wednesday, December 30, 2015 | 06:02

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dulur sareng rerencangan Mentari Sadaya ... ieu edisi spesial, kusabab artikel di Blog Mentari nganggo Basa Sunda (ngotret nage hese pisan ieu teh :D).

Pami urang Cipanas atanapi anu ngalangkungan Jalan Cipanas pasti terang Istana Cipanas sareng Lapangan Ex Brimob ... tah kusabab bade mayunan taun baru, Koramil Pacet (Komando Rayon Militer TNI kanggo Kecamatan Cipanas, Pacet sareng Sukaresmi) gaduh inisiatip ngadamel spanduk kanggo panginget yen taun baru teh ulah digunakeun kanggo maksiat diantarana: nyeuneut petasan sareng kembang api, mararabok, raramean teu puguh anu matak kana maksiat (contona hilap kana Sholat Fardhu)



Tah kusabab kitu ... Koramil Pacet masihan pituah kanggo urang sadayana: daripada maksiat mending urang ngaramekeun Masjid jeung seueur ibadah.

Pastina ku kitu ... Baraya Mentari mah anu sok ngiringan Islamic Sunday sareng Mentoring mah pastina moal "Galau" mun aya nu ngajakan taun baruan, mending di bumi we ngaguher kerek :D janten Sholat Fardhu ge moal tinggaleun sareng moal miceun artos teu pararuguh.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
06:02 | 0 comments | Read More

Innalillahi ... Seorang Siswa SMK Tewas Akibat Perselisihan di Jalan Raya

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Friday, November 27, 2015 | 19:03

Cecep (17) pelajar SMK Ar-Rahmah yang tewas setelah tertancap botol pecah di leher itu sempat ditangani di Rumah Sakit Dokter Hafidz. Tampak sejumlah orang dan dokter berada di ruang penanganan, Jumat (27/11/2015). 

Cecep (17) pelajar SMK Ar-Rahmah tewas setelah tertancap botol pecah di leher kirinya, Jumat (27/11/2015).

Pelajar itu tewas karena kehilangan banyak darah. Cecep bersama teman-temannya sedang menumpang angkot 05A dari Pamoyanan menuju Ciranjang.

Karena angkot penuh, Cecep berdiri di ambang pintu angkot. Sedang melaju, tiba-tiba dua orang siswa SMK lain menyalip menggunakan sepeda motor matic.

"Saya tunggu di depan, kata anak (yang naik matic) itu. Di depan SMPN 1 Karang Tengah, anak itu melempar botol kaca yang sudah pecah. Sebesar botol kecap, dan tepat menancap di leher Cecep," ujar Ahmad Yusuf (16) siswa yang berdiri bersama Cecep di ambang pintu angkot, saat ditemui di Rumah Sakit Dokter Hafidz (RSDH).

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12.00. Mengetahui Cecep berlumuran darah. Angkot langsung berhenti dan memutar balik untuk mengantarkan Cecep ke RSDH.

Andi Kurniawan, Manajer Pelayanan Medis RSDH bertutur, Cecep sempat diberi pertolongan selama 15 menit sebelum akhirnya meninggal. "Luka di leher kiri selebar 3 centimeter, panjangnya 7 centimeter dan kedalaman luka itu 5 centimeter. Korban kehilangan banyak darah," ujar Andi di RSDH.

Sumber: jabar.tribunnews.com
19:03 | 0 comments | Read More

Sahabat Mentari Jaga Mata dan Pikiran Kita dari Propaganda Free Sex

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Wednesday, November 25, 2015 | 20:38

Innalillahi Wa Innailahi Raaji'un ... Sahabat Mentari wajib sadar bahwa ketika melihat segala sesuatu harus berdasarkan "Kacamata" Syariat Agama (yang gak pake Kacamata beneran tetep harus patuh Syariat juga yah ^_^ ), dan bukan karena bagus menurut manusia atau menurut pendapat kebanyakan orang.


Di Youtube sekarang ini ternyata ada iklan yang otomatis muncul dan gak bisa di-skip (diklik dan dilewat tanpa ditonton), jadi kita harus melihat Iklan sampai beres. Namun yang bikin "ngarenghap" adalah ternyata itu iklan kondom :(
Produsen Kondom mengajak kita untuk memberikan masukan terkait emoticon kondom di Jejaring Sosial atau Instant Message, karena banyak yang masih "sadar" bahwa image kondom itu buruk.

Tahu tidak Sahabat Mentari? Iklan propaganda lewat Media Video yang sekarang masih dikuasai oleh Televisi dan sekarang Internet sedang coba menggantikannya (khususnya di Indonesia), sangatlah efektif merubah cara pandang seseorang dalam melihat dan menilai sesuatu.

Bayangkan jika Freesex alias Zina dipandang sebagai sesuatu yang gaul dan keren ... berapa banyak Remaja Islam yang akan kehilangan kemuliaannya disisi Allah SWT.

Sahabat Mentari yang masih Remaja .... yuks kuatkan Iman dan Islam dengan memperdalam pemahaman Agama, agar kita semakin kuat menjalankan prinsip hidup dalam beragama. Ikuti pengajian di sekolah, Mushola dan Mesjid sekitar Rumah atau bersama kami melalui Islamic Sunday tiap 2 pekan sekali dan Mentoring di Sekolah yang bekerjasama dengan Mentari.

Kami pengurus YPR Mentari Cianjur​ mencintai Sahabat Mentari karena Allah SWT ... yuks mari menuju Jannah bareng-bareng. Beresin Sekolah sampai selesai, bahagiakan keluarga dengan kita menjadi orang yang sukses dan nantikan masa depan gemilang (termasuk menanti Pujaan Hati untuk bareng nongkrong di Pelaminan ^_^ )

Intinya ... Sahabat Mentari itu JoJoBa alias Jomblo Jomblo Bahagia :D
20:38 | 0 comments | Read More

Ustadz Yusuf Mansur: Kalau Pacaran, Hancur Hidupnya!

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Friday, November 20, 2015 | 05:52

Zina adalah pangkal kegelapan di dalam hidup. Pacaran adalah salah satu jalan zina dan yang mengantarkan seorang manusia menuju zina besar. Bagaimanakah kengerian akibat zina di dunia dan akhirat? Apakah orang tua mendapat akibat siksa atas zina pacaran yang dilakukan oleh anak-anaknya?

Berikut transkrip ceramah Ustadz Yusuf Mansyur tentang ngeri, mencekam, serta buruknya akibat zina. Semoga Allah Ta’ala melindungi diri, keluarga, dan kaum Muslimin dari segala jenis zina. Aamiin.

    Hati-hati ye, Mahasiswa-mahasiswi ye, jangan sampai pingin sekolah tinggi, nikahnya telat, tapi, udah main-main. Hancur hidup ente! Anak muda itu, kalau sudah berzina, hancur hidupnye! Bener! Kalau ente pingin tahu bagaimana rasanya dihancurin Allah, berzina aja. Iya! Biar tahu rasanya kayak apa. Makanya, jangan macem-macem. Kalau jadi mahasiswa atau mahasiwi, yang baik-baik. Kalau emang pacaran, pakai sarung tinju. Jadi gak sempat pegangan. Kalau emang naik motor berdua sama pacar, pakai triplek.

    Bener-bener, nih. Jaga betul, jaga betul. Sebab, nih ya, anak-anak sekarang ini kelakuannya masya Allah (baca: mengkhawatirkan). Abis, contohnya televisi. Contohnya televisi. Contohnya televisi. Jadi, pegangan tangan sudah tidak apa-apa. Cium pipi kanan-pipi kiri; gak apa-apa. Padahal, bahayanya itu na’udzubillah…


    Itu kalau laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim pegangan tangannya, ibunya itu-nanti di dalam kubur-dibawain batu neraka oleh malaikat Zabaniyah. Lah, malaikat Zabaniyah kan tempatnya di neraka, tapi bisa naik tuh ke kuburan (seraya) membawa kerikil. Kerikil (tersebut) sudah dipanasin di neraka berjuta-juta tahun. Kerikil tersebut diletakkan di telapak tangan ibunya, lalu si ibu disuruh menggenggam. Gara-gara menggenggam batu tersebut, ubun-ubun (otak) ibunya hancur. Itu merupkan siksa yang paling rendah bagi seorang ibu (orang tua) jika anaknya berzina.


    Makanya, Bu, penting ngasih tahu ke anak, “Sini, nak. Kamu sayang atau tidak sama Emak? Kalau sayang, jangan sampai kamu dipegang oleh orang lain, kecuali suami kamu nanti.”
    Bener itu!
    Nah, kalau si anak benar-benar berzina, (siksanya) lebih kejam lagi.


    Ibu-ibu yang sudah di alam kubur, malaikat Zabaniyah itu naik (ke alam kubur) dengan membawa tombak enam belas mata. Tombak tersebut dihujamkan ke tubuh si mayit (yang anaknya berzina). Hal itu merupakan balasan kepada orang tua karena tidak mendidik anak hingga sampai berzina.
    Ibu (yang di alam kubur) bisa mengutuk si anak, “Gak ridha saya. Anak saya mempersembahkan perbuatan buruk!”


    Kutukan ibu di alam kubur itu yang membuat si anak hidup susah di dunia sehingga; mencari kerja gak ketemu, begitu kerja tidak cukup, ketika usaha berhutang.
    Itu, jawabannya cuma satu; tuubuu illallah, bertaubat kepada Allah.


    Serem. Serem. Makanya, jangan main-main! Jangan pacaran! Gak ada judulnya pacaran. Gak ada! Pacaran islami, gak ada! Gak ada pacaran islami! Bener! Gak ada!
    Subhanallah deh… Mendingan kita sehat dan selamat daripada urusannya ribet.
    Nah, orang-orang ini sekarang sudah tidak belajar urusan ribet. Yang dipelajari hanya urusan enak, tapi urusan ribet tidak dipelajari.


    Mudah-mudahan jadi ingetan. Jadi, pas mau dipegang sama pacarnya, (si anak akan bilang), “Maaf, Bang. Gak, Bang. Ntar daripada Emak ane susah. Jadi, kalau Abang mau, lamar aja, Bang.”


Masih mau berpacaran? Na’udzubillahi min dzalik.

Sumber: Bersamadakwah.com
05:52 | 0 comments | Read More

Kisah dari Umar Bin Abdul Aziz, Sabar dan Istiqomah dalam Proses Melakukan Perbaikan

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Friday, November 13, 2015 | 17:41


Siang itu, saat (Qailulah tidur siang menjelang dzuhur), Umar bin Abdul Aziz hendak merebahkan punggungnya sejenak. Ia belum lama dibaiat sebagai Khalifah. Putranya, Abdul Malik yang masih sangat belia dan dikenal sholih serta ahli ilmu masuk menemui ayahnya itu Melakukan protes. Abdul Malik berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apa jawabanmu kelak di hadapan Rabb mu jika Dia bertanya kepadamu, kamu melihat Bid’ah dan tidak kamu matikan atau sunnah dan tidak kamu hidupkan?"

Umar Bin Abdul Aziz menjawab tenang, “Semoga Allah merahmatimu dan membalas kebaikanmu sebagai anak yang baik. Anakku, sesungguhnya masyarakatmu dulu telah melakukan semua itu seikat demi seikat hingga kuat sekali, maka kapanpun kamu hendak mencabutnya dari mereka, aku khawatir mereka akan membuat gaduh dan pertikaian hingga akan banyak pertumpahan darah.

Abdul Malik bertanya lagi, “Wahai ayah, apa yang menghalangimu untuk segera menegakkan keadilan seperti yang kau inginkan?”

Umar bin Abdul Aziz menjelaskan strateginya, “Wahai anakku, sesungguhnya aku ingin melatih dan mengajak masyarakat sebuah latihan yang sulit. Aku ingin menghidupkan keadilan, tapi aku akhirkan agar aku bisa mengeluarkannya bersamaan dengan sifat tamak terhadap dunia. Agar mereka lari dari ini dan masuk dengan tenang ke ini.”

Abdul Malik, “Ayah, mengapa kau tidak segera menyelesaikan hal ini? Demi Allah aku tidak peduli kalaupun aku dan engkau harus direbus demi kebenaran. Apakah ayah tidur sementara aduan kedzaliman telah antri di depan pintumu?”

Umar bin Abdul Aziz memaparkan perpaduan antara tekad, semangat, dan bertahap, “Jangan terburu-buru anakku, sesungguhnya Allah dalam Al Quran mencela Khamr dua kali dan mengharamkannya pada yang ketiga. Dan aku takut kalau memaksakan kebenaran ini kepada masyarakat sekaligus, mereka justru akan menolaknya. Dan ini akan menjadi fitnah.

Wahai anakku, sesungguhnya jiwaku ini adalah kendaraanku. Jika aku tidak berlemah lembut kepadanya, ia tidak akan menyampaikanku kepada tujuan. Sesungguhnya jika aku membuat jiwaku dan para stafku lelah, maka itu tidak berlangsung lama untuk aku jatuh dan mereka pun jatuh. Dan sesungguhnya aku berharap mendapatkan pahala dari tidurku sebagaimana aku mendapatkan pahala dari keadaanku ketika sedang tidak tidur. Sesungguhnya jika Allah berkehendak menurunkan Al Qur'an ini sekaligus, pasti akan diturunkannya. Tetapi yang diturunkan hanya satu atau dua ayat. Agar iman tertancap dulu dalam hati-hati mereka.”

(Baca ulang dengan teliti kata per katanya. Ini konsep orang besar, untuk sebuah negeri besar, dengan hasil yang datang dalam waktu yang sangat sebentar. Pahami dengan baik konsep tadarruj (bertahap) dalam apapun. Seimbangkan antara semangat yang tinggi, keinginan yang menjulang, dengan memberikan hak rehat bagi diri dan tim. Semua ini hasil keseimbangan antara semangat dan ilmu!!!)
Semoga Allah menjaga antum semua.

Oleh Budi Ashari, Lc
Judul Asli Tulisan: Dialog Dahsyat di Qailulah
17:41 | 0 comments | Read More

Buku DR Adian Husaini: "LGBT Di Indonesia, Perkembangan & Solusinya"

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Monday, October 26, 2015 | 16:50

Review Singkat Buku Terbaru DR. Adian Husaini oleh #IndonesiaTanpaJIL
LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender), kini benar-benar menjadi wabah global, yang mengkhawatirkan banyak umat manusia. Dunia dibuat terperangah, setelah Amerika Serikat akhirnya secara resmi mengesahkan perkawinan sesama jenis, tahun 2015 ini.

Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden secara terbuka mengakui peran tokoh-tokoh Yahudi dalam mengubah persepsi bangsa Amerika tentang LGBT. Maka, jadilah Amerika Serikat sebagai negara ke-21 yang secara resmi mengesahkan perkawinan sesama jenis.

Indonesia - sebagai negeri muslim terbesar - pun tak lepas dari tantangan global ini. Tahun 2006, di Kota Yogya, secara resmi dideklarasikan The Yogyakarta Principles oleh tokoh-tokoh HAM dunia. Isinya menyerukan diakhirinya diskriminasi atas dasar gender dan orientasi seksual.

Kampanye legalisasi LGBT di Indonesia atas dasar HAM (sekuler) pun terus bergema kemana-mana. Dukungan negara dan lembaga donor asing dilakukan secara terang-terangan.

Tokoh lesbi Internasional, Irshad Manji, sempat dihadirkan di Indonesia untuk mempromosikan pemikiran LGBT ini. Berbagai kalangan aktivis liberal semakin gencar melakukan perubahan tafsir al-Quran dan hukum Islam tentang LGBT. Urat malu pun semakin dikikis habis.

Kaum LGBT didorong secara terbuka untuk mempertontonkan diri, tanpa rasa malu lagi. Bukan sadar diri akan ujian Ilahi, tetapi didorong melampiaskan syahwat syaithani.

Bagaimana masa depan LGBT di Indonesia? akankah negara yang berdasar prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab ini mengikuti jejak Amerika Serikat dan lain-lain, melegalkan perilaku seksual yang secara tegas dilaknat dalam al-Quran dan Bible ini?

Ada baiknya, anda membaca buku ringkas dari Dr. Adian Husaini. Selamat membaca! semoga meraih hikmah!


16:50 | 1 comments | Read More

MUI Tolak Gagasan Minta Maaf ke PKI

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Wednesday, September 30, 2015 | 05:36

Ketua MUI Pusat KH Makruf Amin menyampaikan pidato dalam Pengukuhan Pengurus MUI Pusat Masa Khidmat 2015-2010 di Jakarta, Selasa (29/09).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan penolakannya terhadap gagasan permintaan maaf oleh pemerintah kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). MUI beralasan, dalam sejarahnya PKI adalah pelaku pemberontakan. Selain itu, para ulama juga telah menjadi korban kebiadaban PKI. 

"Wah, PKI itu kan memberontak, kok minta maaf sih. Nah ini persepsinya seperti apa. Kalau kita kan menganggap PKI itu  memberontak," ungkap Ketua Umum MUI Pusat KH Ma'ruf Amin usai pengukuhan Pengurus MUI Pusat Masa Khidmat 2015-2010 di Gedung MUI Pusat, Jl Proklamasi, Jakarta, Selasa (29/09) kemarin.
Karena PKI adalah pemberontak terhadap pemerintahan yang sah, Kyai Ma'ruf berpendapat tidak sepantasanya pemerintah meminta maaf kepada anak cucu PKI sekarang. 
"Nggak pantas dong. Kalau begitu harus minta maaf sama DI/TII, mau minta maaf sama Permesta, terus minta maaf...wah kacau itu!," tandasnya. 
Apalagi, kata Kyai Ma'ruf, dalam pemberontakan PKI tahun 1948 dan 1965, para ustaz, guru ngaji, dan ulama juga banyak yang dibunuh oleh PKI. 
Meski tidak setuju permintaan maaf, tetapi Kyai Ma'ruf setuju bila dilakukan rekonsialiasi untuk mempersatukan bangsa. Tetapi sekali lagi bukan berarti pemerintah harus minta maaf karena merasa telah bersalah pada PKI.
"Kalau rekonsiliasi sih bagus saja, namanya kita untuk mempersaudarakan bangsa ini. Tetapi bukan kemudian pemerintah harus minta maaf. Merasa bersalah, itu tidak betul. Kalau rekonsiliasi baguslah," pungkasnya.
Sumber: suara-islam.com
05:36 | 0 comments | Read More

Menelusuri Jejak Kebiadaban PKI di Madiun

 Dari kiri: Aru Syeif Assadullah (Pimred Tabloid Suara Islam), KH. Muhammad al Khaththath (Pemimpin umum), dan Muhammad Halwan (Wartawan Daerah) didepan kuburan massal korban pembantaian PKI

Tim kecil redaksi Suara Islam melakukan perjalanan khusus, menelusuri sejarah sekitar tahun-tahun awal berdirinya Republik ini yang dikoyak kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI), di sekitar upaya pengambilalihan kekuasaan secara paksa dalam peristiwa Madiun tahun 1948.

Tercakup dalam tim redaksi Suara Islam itu, kendati dalam jumlah kecil namun mencakup redaksi Tabloid dan Suara Islam Online. Mereka diantaranya terdiri Pemimpin Umum KH. Muhammad Al Khaththath, Pemimpin Redaksi H.M. Aru Syeiff Assadullah, Syaiful Falah serta beberapa orang staf redaksi lain. Perjalanan kemudian didampingi M. Halwan dari Biro Daerah-Jawa Timur.

Perjalanan ini, dilatarbelakangi gejala yang berkembang dalam beberapa tahun belakangan, terutama setelah Orde Baru tumbang (21 Mei 1998), semakin terang adanya upaya pemutarbalikkan fakta tentang kekejaman PKI. Upaya itu dilakukan dalam berbagai bentuk publikasi, termasuk penulisan buku-buku, terang-terangan semakin mengaburkan sejarah kelam itu.

Berbagai publikasi yang dilakukan orang-orang bekas PKI menyebut, pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, hanya merupakan provokasi Wakil Presiden Muhammad Hatta, yang ketika itu merangkap sebagai Perdana Menteri. Kemudian, ada upaya mengelak dari yang sebenarnya berada di balik kudeta gagal di tahun 1965. Mereka menyebut G30S PKI 1965,  hanya konflik internal ABRI terutama Angkatan Darat. Perjalanan tim kecil redaksi Suara Islam bermisi menggali fakta yang lebih benar.

Upaya pengaburan sejarah, diantaranya seperti yang ditulis Suara Islam Tabloid Edisi 165 September/Oktober 2013; rancangan Kurikulum Pendidikan Sejarah Nasional (PSN) tahun 2004, secara sengaja menghilangkan dua peristiwa; Pemberontakan PKI September 1948 dan Gerakan 30 September (G30S) PKI 1965. Sebaliknya justru banyak mengurai pemberontakan DI/TII.

Sejumlah tokoh Islam, gigih melancarkan protes terhadap rencana penerapan kurikulum itu, dan protes ini berhasil menggagalkan penerapan kurikulum PSN “keblinger” itu. Diantara tokoh Islam itu; (Alm) Allahuyarkham KH. Yusuf Hasyim---Pimpinan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, kemudian KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafii, Pengasuh Perguruan Islam Asy Syafi’iyah, Balimatraman Jakarta Selatan, ada pula Sastrawan Taufiq Ismail dan sejumlah tokoh lainnya.

KH. Muhammad Yusuf Hasyim, karib disapa Pak ‘Ud dan Gus ‘Ud ini wafat Ahad, 14 Januari 2007. Sebulan sebelumnya, tepatnya Sabtu 9 Desember 2006 bertutur kepada Suara Islam mengungkap; Kurikulum PSN tahun 2004 akan diterapkan  mulai 1 Juli 2005, sangat menyakitkan umat Islam, karena tidak menyebut PKI pernah memberontak; tahun 1948 berusaha mengambil alih kekuasaan di Madiun. Tidak pula menyebut PKI berada di belakang kudeta gagal ditahun 1965. “Malah, pemberontakan DI/TII, banyak diurai, namun tidak dilengkapi latar belakang yang benar,” ungkap Pak ‘Ud.  

Tokoh-tokoh Islam yang melancarkan protes, KH. Muhammad Yusuf Hasyim menyebut sebagai sebuah Delegasi Besar. Ketika itu berhasil bertemu Mendiknas (dijabat Bambang Sudibyo), Menko Kesra (dijabat Alwi Shihab) dan Ketua DPR RI (dijabat Agung Laksono). “Alhamdulillah, protes itu didengar mereka. Sangat melegakan; akhirnya kurikulum berhasil dibatalkan, dan ditetapkan menerapkan PSN pada kurikulum sebelumnya.

Paling Diincar PKI

Masih dari Suara Islam edisi yang sama, dari rubrik Nasional Mengenang KH. M. Yusuf Hasyim, mengungkap ketika PKI memberontak mengambil alih kekuasaan tahun 1948 di Madiun, juga menahan KH. Imam Zarkasyi dan KH. Achmad Sahal, dua pimpinan Pengasuh Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo

Tim kecil redaksi, ketika berkunjung ke Gontor, Selasa (24 Desember) diterima Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil, MA., Wakil Rektor Institut Studi Islam Darussalam (lebih dikenal sebagai Universitas Darussalam, red). Dalam perbincangan; tidak terjelaskan KH. Imam Zarkasyi ketika itu sebagai Kiai yang sangat diincar oleh PKI. Penangkapan, penyekapan dan penahanan oleh PKI yang dialami bersama KH. Achmad Sahal, kakaknya dan sejumlah 70 santrinya, tak ubahnya seperti yang dialami ratusan kiai di Madiun, Magetan, Ngawi dan Pacitan;  yang tertangkap dan kemudian menjadi korban pembantaian.

Tim Suara Islam bertemu dengan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil, MA., Wakil Rektor Institut Studi Islam Darussalam

Suara Islam berhasil menghimpun beberapa catatan sejarah. KH. Imam Zarkasyi sangat diincar PKI karena, walaupun sejenak, pernah sangat aktif di Masyumi—satu-satunya partai Islam, yang sangat dimusuhi PKI. Di masa pendudukan Jepang, ketika  Masyumi mendirikan lasykar Hizbullah---sebagai organisasi ketenteraan Islam, KH. Imam Zarkasyi  menjadi anggota pengurus pusat dan terlibat langsung penanganan berbagai latihan anggota.

KH. Imam Zarkasyi, pada April 1945 aktif dalam berbagai pertemuan Masyumi untuk pembahasan dan mematangkan ide pendirian Perguruan Tinggi Islam. Beberapa kali pertemuan yang diselenggarakan itu, kemudian disebut sebagai Sidang Pendirian Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Berhasil diresmikan pembukaanya pada 8 Juli 1945 yang ketika itu masih bernama Sekolah Tinggi Islam (STI).

Dalam Muktamar Umat Islam di Yogyakarta  7-8 Nopember 1945, KH. Imam Zarkasyi tercatat sebagai anggota tim perumus untuk mewujudkan Masyumi sebagai satu-satunya partai politik umat Islam. Setelah Masyumi menjadi partai politik, KH. Imam Zarkasyi tercatat duduk menjadi anggota Majelis Syuro (Dewan Partai) bersama tokoh-tokoh yang lain, diantaranya Ki Bagus Hadi Koesoemo, KH. Wahid Hasyim dan Mr. Kasman Singodimedjo. Pendiri dan Pimpinan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng,  KH. Hasyim Asy’ari, bertgindak sebagai ketua Majelis Syuro ini.

Sembilan hari sebelum “meletus” pemberontakan PKI, tepatnya pada 9 September 1948, Masyumi wilayah Ponorogo menggelar rapat besar di Pondok Gontor. PKI ternyata juga mengetahui di antara santri (ketika itu berjumlah 200 orang) terdapat seorang anggota tentara Hizbullah; dimaksud adalah Ghozali Anwar.

Terbetik khabar di daerah lain, para Kiai menjadi korban kekejian PKI; karena itu bersama Shoiman, santri senior lainnya, Ghozali Anwar mendesak KH. Imam Zarkasyi dan KH. Achmad Sahal, agar bersedia mengungsi. Sebelum mengungsi, pondok pesantren diliburkan.  Diantara 130 orang santri, yang tidak dapat pulang ke daerah asal, di titip-titipkan ke rumah penduduk. Ikut mengungsi 70 orang santri senior. Pelarian dalam pengungsian ini  akhirnya terkepun dan tertangkap di kawasan Sawoo, timur kota Ponorogo.

Disekap dalam rumah tahanan yang berpindah-pindah hingga akhirnya dijebloskan ke Penjara Ponorogo. Sedang 70 orang santri diangapsebagai tahanan ringan, di sekap di masjid pangung (masjid tingkat milik Muhammadiyah Jl. Soekarno-Hatta,red). Setiap tekanan yang dilancarkan dalam interogasi kepada santri, PKI selalu menanyakan keterlibatannya di dalam Tentara Pelajar, Tentara Hizbullah, GPII (Gerakan Pelajar Islam Indonesia) dan kemungkinan mengetahui keberadaan  KH. Imam Zarkasyi.

Makam Soco


Sebelum ke Ponorogo, tim kecil redaksi Suara Islam, di kota Madiun melihat dari dekat  Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jalan Jenderal A. Yani (dahulu Jalan Wilis). Seberang jalan ini, adalah tepian sungai besar Kali Madiun. RTM Madiun, berada tepat di tikungan aliran sungai ini. Sisi kiri RTM, terdapat rumah pengendali lima unit pompa besar, penyedot banjir kota Madiun, diangkat masuk ke aliran Kali Madiun.

Mengapa menengok RTM?. Karena di rumah tahanan ini, sejumlah tokoh ----terbanyak dari Masyumi--- pada awal hingga pertengahan dasawarsa 1960-an, ditahan oleh rezim Soekarno yang sedang bermesraan dan  kesengsem dalam buaian komunis.

Penahanan tokoh Masyumi serta tokoh-tokoh yang lain, tercatat mulai dari 16 Januari 1962 dan berlangsung selama lebih empat tahun hingga April atau Mei 1966. Sebelumnya dipindah-pindah di sejumlah rumah tahanan. Pemindahan ke RTM Madiun dibagi dalam dua gelombang. Pertama, ditempatkan di blok A adalah: Mr. Mohammad Roem satu kamar dengan Prawoto Mangkoesasmito. Kemudian Anak Agung Gde Agung satu kamar dengan Subadio Sastrosatomo. Sutan Syahrir dan Sultan Hamid, masing-masing menempati satu kamar terpisah

Dalam bulan Januari 1963, datang rombongan tahanan ke dua dijebloskan blok B RTM Madiun. Diantaranya; Engkin Zainal (EZ) Mutaqien, HM. Yunan Nasution, Mochtar Loebis, HM. Isa Anshary dan H. Mochtar Ghazali.

Tim kecil redaksi kemudian berziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP), tidak jauh dari RTM. Di TMP ini, terdapat makam Soco; yaitu lokasi pemakaman kembali secara massal (dalam satu liang lahat) sejumlah 108 kerangka jenazah korban kekejian PKI tahun 1948, yang dievakuasi  dari ladang pembantaian dan beberapa sumur di desa Soco, Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan. Evakuasi dilakukan, setelah jazad terkubur hampir selama 20 tahun di beberapa sumur.

Tim Suara Islam berziarah ke Taman Makam Pahlawan Madiun

Tertulis pada prasasti Makam Soco, sejumlah 67 tokoh  korban pembantaian dapat diberi nama. Namun 41 kerangka korban lainnya, dalam urutan nomor 68 hingga 108, diberi sebutan tidak dikenal. Tertulis urutan nama no 8, Moch. Soehoed, adalah ayahanda Letjen (Purn) M. Kharis Suhud Ketua DPR/MPR RI pada periode 1988- 1993.

Di luar Makam Soco, terdapat makam Moelyadi, anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) pada Brigade 17. Ia gugur saat tugas jaga di gerbang markasnya di SMP (kini SMPN 2 di Jalan HA. Salim). Tragisnya, tewasnya Moelyadi ditembak oleh kakaknya sendiri. Ketika sudah roboh, masih beberapa kali ditusuk bayonet ujung senapan.

Peristiwa tragis lainnya menimpa pelajar, adalah tewasnya Soeryo Soegito, ketua GPII dan Komandan Brigade Pelajar Islam (BPI) Madiun. Ketika itu berniat menyambut kedatangan tentara Siliwangi dengan meluapkan kegembiraan; berteriak dan berlari keluar dari markasnya di sudut perempatan Jalan Jawa. Karena mengenakan pakaian hitam, pasukan Siliwangi mengira ia anggota laskar merah. Segera saja dilepas tembakan. Soeryo Soegito tersungkur. Setelah jasad diteliti, sangat mengejutkan, di balik pakaian hitam terdapat slayer dan pin GPII serta BPI.

Ridwan, Ketua GPII Kabupaten Magetan, yang tinggal di rumah Ibunya, Djuariyah, di Kecamatan Bendo juga tragis. Dia hilang diculik PKI, dan dinyatakan telah sahid bersama ratusan korban lain ditemukan di beberapa sumur yang ditimbun di desa Soco. Nama Ridwan, tertulis pada prasasti Makam Soco di TMP Madiun pada nomer urut 34.      

Perjalanan telusur sejarah ini dilanjutkan ke Monumen Kekejaman PKI di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun---sekira 15 Km dari Kota Madiun. Monumen di lereng barat pegunungan Wilis, menandai ladang pembantaian dengan korban 17 orang. Kolonel Marhadi, dari Staf Pertahanan Djawa Timur (SPDT) menjadi korban bersama sejumlah Kiai. Alm. R. Kartidjo, yang pernah menjabat ketua DPR RI, selamat dari pembantaian di Kresek ini. Akhir dasawarsa 1980-an, ketika meresmikan monumen Moelyadi di Jalan Mas Trip, R. Kartidjo menyebut dirinya nyaris sebagai korban ke 18 di Kresek. Ia tertimpa tawanan yang roboh dalam ikatan, terkena tembakan membabi buta karena panik, camp tawanan segera diserbu tentara Siliwangi.

Pimred dan Pimpinan Umum Suara Islam di depan monumen pembantaian PKI terhadap ulama 

Perjalanan diakhiri di Ponorogo. Setelah bertandang ke Universitas Darussalam atau Institut Studi Islam Darussalam dan Pondok Modern Darusalam Gontor, diakhiri di situs Pesantren Tegalsari, di desa Tegalsari Kecamatan Jetis, Ponorogo. Pesantren peninggalan Kiai Ageng Mohammad Besari, yang menjadi cikal bakal pesantren seluruh Jawa. 

Sumber: suara-islam.com
05:33 | 0 comments | Read More