Powered by Blogger.

Ramadhan, Titik Awal Berhenti Merokok

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Tuesday, June 6, 2017 | 11:20

Oleh Syamsul Arifin, SKM. MKKK. (Praktisi dan pengajar K3 Balikpapan - syamsul.arifin@yahoo.com)
Tanggal 31 Mei lalu diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia atau World No Tobacco Day. 
World Health Organization (WHO) mengambil tema "tembakau - ancaman perkembangan (bangsa)" untuk perayaan tahun ini.
Direktur umum WHO, Dr Margaret Chan mengatakan bahwa tembakau memperbesar kemiskinan, menurunkan produktifitas ekonomi, berkontribusi pada pilihan makan di keluarga miskin (lebih memilih rokok ketimbang makanan sehat-bergizi), dan mencemari udara dalam ruangan.
Parahnya, untuk konsumsi rokok, Indonesia menempati ranking tertinggi (pertama) se-negara di ASEAN dengan rata-rata konsumsi sebanyak 1,322 batang per orang per tahun.
Yang menyedihkan, konsumsi rokok di keluarga miskin jauh lebih besar dibandingkan pengeluaran penting lainnya semisal untuk pendidikan, kesehatan, telur, susu, dan daging. 
Survei keluarga nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) 2011 menunjukkan bahwa pengeluaran untuk rokok 5 kali lebih besar dari pengeluaran untuk telur dan susu, 6,5 kali lebih besar dari biaya pendidikan, 6,5 kali lebih besar dari biaya kesehatan, dan 9 kali lebih besar dari pengeluaran untuk konsumsi daging! 
Sepertinya orang miskin lebih memilih 'makan' rokok ketimbang makan daging?
Ada yang berkata bahwa dengan merokok, kita membantu meningkatkan ekonomi petani tembakau dan meningkatkan pendapatan negara? Faktanya, data Kementerian Kesehatan menunjukkan, meski negara menerima cukai rokok sebesar Rp. 55 triliun (tahun 2010), pengeluaran makro akibat rokok jauh lebih besar, mencapai Rp. 245,41 triliun (pembelian rokok 138 triliun, hilangnya produktifitas akibat cacat di usia muda 105,3 triliun, dan pengeluaran perawatan medis 2,11 triliun). Data ini menunjukkan bahwa kerugian akibat rokok lebih besar dari manfaat ekonomi yang dihasilkan.
Sudibyo Markus, Direktur Indonesia Institute for Social Development mengatakan bahwa orang terkaya nomor 1 dan 2 di Indonesia adalah pemilik industri rokok, sementara hidup petani tembakau terseok-seok; komoditas tembakau yang dihasilkan oleh petani justru dinikmati oleh industri rokok besar.
Penelitian mengenai kondisi petani tembakau di Indonesia yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas (LD-FEUI) bekerjasama dengan Tobacco Control Support Center (TCSC) atau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) juga menunjukkan bahwa kondisi petani tembakau menunjukkan informasi yang memprihatinkan.
Upah buruh tani tembakau yang diterima lebih rendah dari rata-rata upah nasional. Rata-rata upah harian buruh tani tembakau sebesar Rp 15.899 per hari atau sekitar Rp 413.374 perbulan dengan asumsi 26 hari kerja.
Bahkan hasil penelitian juga menunjukkan sebanyak 65% responden buruh tani tembakau menyatakan ingin mencari pekerjaan lain. 64% nya menyatakan ingin beralih ke usaha lain seandainya ada usaha lain dengan keuntungan lebih besar atau minimal sama.
Saya tidak akan menjelaskan mengenai bahaya merokok, kandungan racun yang ada dalam sebatang rokok, efek buruknya bagi kesehatan, dan kerugian ekonomi yang didapat dari pilihan merokok, yang akan saya ungkapkan selanjutnya adalah himbauan untuk memanfaatkan momentum puasa di bulan Ramadhan untuk memulai langkah awal menghentikan kebiasaan buruk, merokok.
Secara bahasa, puasa berarti "menahan", sedang secara istilah, puasa berarti "menahan diri dari segala yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga matahari terbenam, dengan disertai niat". Salah satu yang dapat membatalkan puasa adalah merokok.
Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA. menjelaskan, seluruh ulama sepakat bahwa menghisap rokok bila dilakukan pada siang hari Ramadhan, maka hal itu membatalkan puasa.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin menasihati, bulan Ramadhan adalah waktu tepat bagi orang yang memiliki tekad kuat untuk meninggalkan rokok yang jelek dan bisa mendatangkan bahaya. 
Waktu ini adalah kesempatan yang baik untuk meninggalkan rokok karena sepanjang siang, seseorang harus menahan diri dari hal tersebut. Sedangkan di malam hari, dia bisa menghibur diri dengan hal-hal yang mubah seperti makan, minum, jalan-jalan ke masjid, atau berkunjung ke majelis orang sholih. 
Untuk meninggalkan kebiasaan merokok, seseorang juga hendaknya menjauhkan diri dari para pecandu rokok yang bisa mempengaruhi dia untuk merokok lagi.
Apabila seorang pecandu rokok setelah sebulan penuh meninggalkan rokoknya (karena momen puasa yang dia lalui), ini bisa menjadi penolong terbesar baginya untuk meninggalkan kebiasaan rokok selamanya, dia bisa meninggalkan rokok tersebut di sisa umurnya. 
Bulan Ramadhan inilah kesempatan yang baik. Waktu ini janganlah sampai dilewatkan oleh pecandu rokok untuk meninggalkan kebiasaan rokoknya selamanya.
Semoga Allah memberikan hidayah kepada pecandu rokok untuk meninggalkan kebiasaan rokok selamanya setelah dia berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan yang penuh berkah, Amin Ya Rabbal Alamin. (*)

Sumber: Tribunnews
11:20 | 0 comments | Read More

Fitnah Zina pada Aisyah RA sang Istri Rasulullah SAW

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Wednesday, May 24, 2017 | 21:29

Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan, “Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak keluar untuk melakukan suatu perjalanan, maka beliau mengundi di antara istri-istrinya. Maka, siapa saja di antara mereka yang keluar undiannya, maka dialah yang keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan kisahnya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan undian di antara kami di dalam suatu peperangan yang beliau ikuti. Ternyata namaku-lah yang keluar. Aku pun berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kejadian ini sesudah ayat tentang hijab diturunkan. Aku dibawa di dalam sekedup (tandu di atas punggung onta) lalu berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kembali dari perang tersebut.


Ketika telah dekat dengan Madinah, maka pada suatu malam beliau memberi aba-aba agar berangkat. Saat itu aku keluar dari tandu melewati para tentara untuk menunaikan keperluanku. Ketika telah usai,  aku kembali ke rombongan. Saat aku meraba dadaku, ternyata kalungku dari merjan zhifar terputus. Lalu aku kembali lagi untuk mencari kalungku, sementara rombongan yang tadi membawaku telah siap berangkat. Mereka pun membawa sekedupku dan memberangkatkannya di atas ontaku yang tadinya aku tunggangi. Mereka beranggapan bahwa aku berada di dalamnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

“Pada masa itu perempuan-perempuan rata-rata ringan, tidak berat, dan tidak banyak daging. Mereka hanya sedikit makan. Makanya, mereka tidak curiga dengan sekedup yang ringan ketika mereka mengangkat dan membawanya. Di samping itu, usiaku masih sangat belia. Mereka membawa onta dan berjalan. Aku pun menemukan kalungku setelah para tentara berlalu. Lantas aku datang ke tempat mereka. Ternyata di tempat itu tidak ada orang yang memanggil dan menjawab. Lalu aku bermaksud ke tempatku tadi di waktu berhenti. Aku beranggapan bahwa mereka akan merasa kehilangan diriku lalu kembali lagi untuk mencariku.”

“Ketika sedang duduk, kedua mataku merasakan kantuk yang tak tertahan. Aku pun tertidur. Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sullami adz-Dzakwani tertinggal di belakang para tentara. Ia berjalan semalam suntuk sehingga ia sampai ke tempatku, lalu ia melihat hitam-hitam sosok seseorang, lantas ia menghampiriku. Ia pun mengenaliku ketika melihatku. Sungguh, ia pernah melihatku sebelum ayat hijab turun, Aku terbangun mendengar bacaan istirja’-nya (bacaan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika ia melihatku. Kututupi wajahku dengan jilbab. Demi Allah, dia tidak mengajakku bicara dan aku tidak mendengar sepatah kata pun dari mulutnya selain ucapan istirja sehingga ia menderumkan kendaraannya, lalu ia memijak kaki depan onta, kemudian aku menungganginya. Selanjutnya ia berkata dengan menuntun kendaraanu sehingga kami dapat menyusul para tentara setelah mereka berhenti sejenak seraya kepanasan di tengah hari. Maka, binasalah orang yang memanfaatkan kejadian ini (menuduh berzina). Orang yang memperbesar masalah ini ialah Abdullah bin Ubay bin Salul (Tokoh Munafiq di Zaman Rasulullah).”


Kesedihan yang melanda Istri Rasulullah SAW Aisyah RA ketika dituduh berzina sangatlah mendalam, karena Rasulullah dan Orang Tua Aisyah RA sendiri yaitu Abu Bakar sampai mendiamkan Aisyah karena dituduh berzina. Sampai akhirnya turun Wahyu dari Allah SWT tentang bantahan bahwa Aisyah RA telah berzina:


“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11)


Beberapa hikmah dari kejadian yang menimpa Aisyah RA:

* Sunnah bagi suami meminta pendapat kepada orang terdekatnya, keluarganya, dan teman-temannya mengenai persoalan yang dihadapinya.

* Terbebasnya Aisyah radhiyallahu ‘anha dari cerita bohong yang dituduhkan kepadanya. Ia telah terbebas secara pasti berdasarkan nash Alquran. Jadi, seandainya ada seseorang yang meragukannya, wal-iyadzu billah, maka ia menjadi kafir dan murtad berdasarkan ijma kaum muslimin.


(Syarh Muslim karya Imam An-Nawawi dengan perubahan).

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Diringkas dari kisahmuslim.com

Judul asli: Tuduhan Dusta Terhadap Istri Rasulullah
21:29 | 0 comments | Read More

Sengaja Tidak Puasa 1 Hari di Bulan Ramadhan, Tidak bisa digantikan dengan Puasa Setahun

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Tuesday, May 23, 2017 | 15:10


Bagaimana hukum orang yang berpuasa beberapa hari dalam bulan Ramadhan tetapi berbuka (tidak berpuasa) selama beberapa hari dengan sengaja? Apakah hari-hari selama ia berpuasa itu diperhitungkan?

Kejadian seperti ini sering didapati di masyarakat. Seseorang yang menyatakan dirinya Islam dengan entengnya meninggalkan puasa dengan entengnya tanpa merasa berdosa. Apakah hukum bagi mereka yang berbuat demikian?

Syekh Yusuf Qardhawi menguraikan hal ini dalam fatwanya. Dia berpendapat bahwa segala sesuatu masing-masing ada perhitungannya. Dan dalam kasus ini letak permasalahannya bukanlah pada perhitungan hari-hari ia berpuasa, tetapi mengenai hari-hari pada saat ia tidak berpuasa—dapat diganti ataukah tidak.

Satu hari dari bulan Ramadhan tidak dapat digantikan kecuali oleh satu hari dari bulan Ramadhan yang lain. Sedangkan pada setiap bulan Ramadhan seorang Muslim senantiasa mempunyai kewajiban berpuasa, dan kewajiban ini tidak mungkin dapat dihindarkan.

Oleh karena itulah, Abu Hurairah RA pernah berkata, "Barangsiapa tidak berpuasa sehari dari hari-hari Ramadhan maka tidak dapat digantikan oleh hari yang lain dari hari-hari dunia."

Diriwayatkan pula bahwa ada seorang laki-laki yang berbuka (membatalkan) puasa pada bulan Ramadhan, lalu Abu Hurairah berkata, "Tidak diterima darinya puasa setahun (sebagai gantinya)."

Dan diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dia berkata, "Barangsiapa yang tidak berpuasa selama satu hari dari bulan Ramadhan tanpa ada rukhshah untuknya, maka tidaklah dia dapat menggantikannya meskipun dengan berpuasa setahun.”

Fatwa seperti ini diriwayatkan pula dari Abu Bakar dan Ali. Oleh karena itu, hendaklah setiap Muslim takut kepada Allah dalam urusan agamanya, dan hendaklah ia memiliki kemauan yang keras untuk melaksanakan puasa Ramadhan serta mengalahkan hawa nafsu dan syahwatnya. Barangsiapa yang kalah (gagal) dalam menghadapi perutnya sendiri, maka ia tidak akan mendapat kemenangan dalam lapangan apa pun. Wallahu'alam.

Sumber: Republika.co.id
15:10 | 0 comments | Read More

Baru 34 SMP di Cianjur Gelar UNBK

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Wednesday, May 3, 2017 | 18:53



POJOKJABAR.com, CIANJUR – Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMP dan sederajat berlangsung serentak di Indonesia, sejak hari Selasa (2/5/2017).
Sebanyak 34 SMP dari 283 SMP di Kabupaten Cianjur, melaksanakan ujian berbasis komputer dengan lancar, meski sempat terganggu matinya lampu di beberapa sekolah.
Dari 34 sekolah yang melaksanakan UNBK, SMP Muhammadiyah Islamic Centre Cianjur merupakan salah satu sekolah swasta yang sudah melaksanakan UNBK.
Kepala SMP Muhammadiyah Islamic Centre Cianjur H Mohammad Solihin mengatakan, di SMP Muhammadiyah Islamic Centre Cianjur sebanyak 69 siswa mengikuti UNBK dengan dibagi tiga sesi.
“Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, peserta bisa melaksanakan UNBK dengan baik, karena sudah diantisipasi sebelumnya, dengan terus melakukan latihan,” paparnya.
Solihin mengaku bangga, lantaran SMP Muhammadiyah Islamic Centre Cianjur sudah bisa melaksanakan UNBK disaat sekolah lain masih banyak yang belum.
“Di cianjur itu baru beberapa sekolah saja yang UNBK saya berharap tahun depan lebih banyak SMP yang melaksanakan UNBK,” tambahnya.
Sementara itu, SMPN 3 Cibeber belum mampu melaksanakan UNBK dan memilih Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP). Penyebabnya, sekolah tersebut belum didukung sarana dan prasarana seperti perangkat komputer. Bahkan sekolah itu belum dijangkau jaringan internet.
Dari pantauan Radar Cianjur (Grup Pojokjabar.com), para peserta ujian terlihat serius dan antusias mengerjakan soal-soal ujian meski tidak menggunakan perangkat komputer. Para siswa juga tidak saling memandang ke sebelah, dan terlihat sangat fokus.
Kepala SMPN 3 Cibeber Nani Sunarti menyebutkan, seluruh siswa peserta ujian nasional (UN) sebanyak 212 orang. Namun mereka belum bisa mengikuti UNBK. Dikarenakan SMPN 3 Cibeber belum masuk jaringan internet. Selain itu, terbatasnya jumlah perangkat komputer sehingga UN dilaksanakan secara manual.
“Sekolah kami belum dijangkau jaringan internet. Jika mengakses internet masih mengandalkan modem. Jujur kalau ditanya sekolah kami juga ingin melaksanakan UNBK, tapi belum didukung dengan sarana dan prasana,” terang Nani Selasa (02/05) kemarin.
Nani memahami, sekolah bisa menginduk atau mengadakan UNBK di SMA atau SMK terdekat namun usulan tersebut ditolak oleh sebagian besar orangtua murid dengan alasan kenyamanan siswa.
“Semoga tahun depan jaringan internet bisa masuk ke sini agar bisa ikuti UNBK,” harapnya.
18:53 | 0 comments | Read More

Rayakan Kelulusan, Pelajar Yogyakarta Bagi-bagi Nasi Bungkus dan Susu Kepada Masyarakat

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Tuesday, May 2, 2017 | 17:12

Nasi dan susu sebanyak 5000 buah yang siap dibagikan ke 11 titik di Kota Yogyakarta dalam acara Sungkeman 2017 oleh siswa siswi SMA di Yogyakarta Selasa (2/5/2017) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebanyak 2000 nasi bungkus dan 3000 susu akan dibagikan kepada para masyarakat dalam acara Sungkeman 2017 yang mengambil titik kumpul di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, Selasa (02/5/2017) pagi.

Kegiatan Sungkeman 2017 ini sendiri merupakan satu acara kelulusan yang digagas oleh sejumlah pelajar di Yogyakarta.

Muhammad Iqbal Aryana selaku ketua panitia acara Sungkeman 2017 mengatakan, pihaknya menyediakan makanan dan susu berjumlah sekitar 5000 untuk dibagikan.

"Untuk pembelian makanan dan susu kami mengumpulkan dana dari para peserta dan dari beberapa donatur," katanya.

Ia mengatakan kegiatan pembagian makanan dan susu tersebut bakal dilakukan ke beberapa titik tempat.

"Kami akan bagikan di 11 tempat meliputi Alun Alun Utara, Tugu Pal Putih, Pingit, Stasiun Tugu, Malioboro, Jokteng Kulon, Abu Bakar Ali, Dongkelan, Ngaben, Ngasem, dan Lempuyangan," pungkasnya.
17:12 | 0 comments | Read More

Awas, Pelaku Kejahatan Seksual Anak Mayoritas Orang Dekat

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Thursday, April 27, 2017 | 11:04

Foto: rilis.id

Menurut Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maria Advianti, anak bisa menjadi korban ataupun pelaku kekerasan dengan lokus kekerasan pada anak ada 3, yaitu di lingkungan keluarga, di lingkungan sekolah dan di lingkungan masyarakat. Hasil monitoring dan evaluasi KPAI tahun 2012 di 9 provinsi menunjukkan bahwa 91 persen anak menjadi korban kekerasan di lingkungan keluarga, 87.6 persen di lingkungan sekolah dan 17.9 persen di lingkungan masyarakat.

“78.3 persen anak menjadi pelaku kekerasan dan sebagian besar karena mereka pernah menjadi korban kekerasan sebelumnya atau pernah melihat kekerasan dilakukan kepada anak lain dan menirunya,” paparnya.

Dia kembali memaparkan, pelaku kekerasan pada anak bisa dibagi menjadi Tiga: 
Pertama: Orang tua, keluarga, atau orang yang dekat di lingkungan rumah.
Kedua: Tenaga kependidikan yaitu guru dan orang-orang yang ada di lingkungan sekolah seperti cleaning service, tukang kantin, satpam, sopir antar jemput yang disediakan sekolah. 
Ketiga: Orang yangg tidak dikenal. Berdasarkan data KPAI di atas tersebut, anak korban kekerasan di lingkungan masyarakat jumlahnya termasuk rendah yaitu 17,9 persen.

Artinya, anak rentan menjadi korban kekerasan justru di lingkungan rumah dan sekolah. Lingkungan yang mengenal anak-anak tersebut cukup dekat. Artinya lagi, pelaku kekerasan pada anak justru lebih banyak berasal dari kalangan yang dekat dengan anak.

Oleh karena itu, Orang Tua harus bisa lebih memerhatikan anak mereka dan ikut mengawasinya, agar terhindar dari berbagai kejahatan yang bisa terjadi di sekitarnya. Orang tua juga harus mengajarkan agar anak jujur, mau menolak jika ada yang mengajarkan perbuatan tidak baik, serta mau melapor. Dan yang lebih penting adalah Orang Tua harus mau belajar Syariat Agama lebih dalam karena bagaimana mungkin bisa menjaga anak dan mengajarkan etika, sementara Orang Tua-nya tidak faham Etika dan Adab yang berdasarkan Risalah Agama. (KPAI)
11:04 | 0 comments | Read More

Islamic Sunday Mentari: My Beloved Rasulullah, 30 April 2017

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Wednesday, April 26, 2017 | 19:57

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sahabat Mentari, Islamic Sunday Mentari is Back !!!

Kali ini dengan tema yang berkaitan dengan panutan dan junjungan kita yaitu Nabi Muhammad SAW: "My Beloved Rasulullah", dan tambah spesial karena Pengisinya Founder Mentari yaitu Kang Roby

Catat waktu pelaksanaanya: Ahad, 30 April 2017 
Tempat: di Aula Toko Rabbani Lantai 2
Waktu: 08.00 - 11.30 WIB


Ayo para Pelajar di Cipanas dan Cianjur hadiri acara keren banget ini, ajak temen dan saudara kamu. Mari kita cintai panutan kita dengan cara yang benar agar semakin bertambah keimanan kita.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
19:57 | 0 comments | Read More

IPB Menerima Calon Mahasiswa Hafiz al-Quran

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Friday, April 7, 2017 | 14:54

Institut Pertanian Bogor (IPB) memberikan kesempatan kepada calon mahasiswa baru tahun akademik 2017-2018 yang memiliki kemampuan menghafal al-Quran atau Hafiz al-Quran. Secara khusus IPB menerima Hafiz al-Quran melalui Jalur Seleksi Prestasi Internasional dan Nasional (PIN). Demikian disampaikan Rektor IPB, Prof. Dr. Herry Suhardiyanto di Kampus IPB Darmaga Bogor (4/4).

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof. Dr. Yonny Koesmaryono mengatakan bahwa calon pendaftar harus mengikuti prosedur dan tatacara seleksi penerimaan mahasiswa baru yang berlaku di IPB.

Melalui Jalur Seleksi PIN, bagi calon mahasiswa yang telah hafal 30 juz akan diapresiasi dengan nilai tambahan setara prestasi olimpiade tingkat internasional. Sementara bagi Hafiz minimal 15 juz sampai 29 juz akan diapresiasi setara dengan prestasi olimpiade tingkat nasional.

"Calon mahasiswa yang melamar melalu jalur ini harus menunjukkan bukti yang sah sebagai Hafiz dari lembaga terpercaya dan bersedia diverifikasi hafalannya. Program ini berlaku untuk semua program studi,” terang Prof. Yonny.

Jalur PIN IPB sudah diselenggarakan sejak tahun 1974 dengan nama Jalur Finalis Lomba Karya Ilmiah. Pada tahun 2000, namanya berubah menjadi Jalur PIN seperti yang dikenal saat ini. Jalur ini memberikan kesempatan kepada lulusan SMA berprestasi luar biasa dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk di dalamnya adalah Hafiz al-Quran, untuk menimba ilmu di IPB agar sikap, perilaku dan pengetahuannya dapat berkembang secara optimal. Informasi ini disampaikan oleh Biro Hukum, Promosi dan Humas Institut Pertanian Bogor

http://ipb.ac.id
http://humas.ipb.ac.id
http://ipbmag.ipb.ac.id
http://media.ipb.ac.id
http://greencampus.ipb.ac.id
 Telp: 0251-8425635 WA : 087874833355

 "Hemat air, hemat energi, kelola sampah dan bijak transportasi" Menuju IPB Green Campus 2020 🌿🌳🌷
14:54 | 0 comments | Read More