Powered by Blogger.

Akhir Zaman, Ditandai Memburu Dunia dan Menjual Akhirat

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Thursday, January 5, 2017 | 17:06

Ulama Su' (Ulama yang menjadikan Ilmunya untuk mencari kepentingan Dunia)

Dari Abu Hurairahra, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ رِجَالٌ يَخْتِلُوْنَ الدُّنْيَا بِالدِّينِ يَلْبَسُوْنَ لِلنَّاسِ جُلُوْدَ الضَّأْنِ مِنَ اللِّينِ، أَلْسِنَتُهُمْ أَحْلَى مِنَ السُّكَّرِ، وَقُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الذِّئَابِ، يَقُوْلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَبِي يَغْتَرُّوْنَ، أَمْ عَلَيَّ يَجْتَرِئُوْنَ؟ فَبِي حَلَفْتُ لَأَبْعَثَنَّ عَلَى أُولَئِكَ مِنْهُمْ فِتْنَةً تَدَعُ الحَلِيْمَ مِنْهُمْ حَيْرَانًا

“Akan keluar di akhir zaman nanti beberapa orang yang mencari dunia dengan amalan din, mereka mengenakan pakaian di tengah-tengah manusia dengan kulit kambing yang lembut, lisan mereka lebih manis dari pada gula, tetapi hati mereka adalah hati srigala. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Apakah terhadap-Ku mereka berani menipu ataukah mereka berani melawan Aku? Maka dengan Kebesaran-Ku, Aku bersumpah, Aku benar-benar akan mengirim kepada mereka fitnah yang mengakibatkan ulama yang teguh hati pun menjadi bingung.” [HR.At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Kitab Az-Zuhd, no. 2515]

Hadits ini, jika ditinjau dari semua jalan periwayatannya maka termasuk hadits dha‘if (lemah), akan tetapi masing-masing darinya menguatkan yang lain. At-Tirmidzi menetapkan bahwa hadits Ibnu Umar rhuma itu berderajat hasan.Al-Mundziri menukilkan penetapan hasan oleh At-Tirmidzi ini dan mengakui kebenarannya. Oleh karena itulah kedudukan hadits-hadits ini adalah hasan li ghairihi atau dha‘if yang dikuatkan.

Bersegera beramal sebelum datangnya fitnah

Rasulullah Shalalalahu ‘Alaihi Wassallam menggambarkan bahwa fitnah akhir zaman itu bagai sepotong malam yang gelap. Seperti bila kita berada di tengah hutan pada waktu malam, tanpa lampu penerang, tanpa rembulan dan bintang, bahkan sekedar cahaya kunang-kunang.Kegelapan yang membuat seseorang bahkan tidak mampu untuk melihat tangannya sendiri, apalagi benda-benda di sekitarnya.

Kondisi hidup yang semacam ini sangat berpotensi untuk menggelincirkan siapapun.Efek fatal fitnah yang gulita ini dapat membuat seorang yang di pagi hari masih beriman namun di sore hari menjadi kafir.Atau di sore hari beriman namun pada pagi harinya kafir.

Karenanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam memerintahkan agar seorang hamba tidak menunda kebaikan dan amal shalih yang dapat dikerjakannya:

Bersegeralah kalian melakukan amal shalih sebelum datangnya berbagai fitnah yang seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita.Pada waktu pagi seorang masih beriman, tetapi di sore hari sudah menjadi kafir; dan pada waktu sore hari seseorang masih beriman, kemudian di pagi harinya sudah menjadi kafir.Dia menjual agamanya dengan sekeping dunia” HR. Muslim no. 169, Tirmidzi no. 2121, dan Ahmad no. 7687.]

Fenomena Penjual Agama di akhir zaman

Nubuwat  tentang  keharusan untuk bersegera beramal shalih mengisyaratkan tentang datangnya masa di mana manusia akan dengan sangat mudah menjual agamanya dengan dunia. Fenomena ulama su’ adalah gambaran yang paling mewakili kondisi di atas.Iming-iming harta, tahta, wanita dan popularitas dunia telah banyak menggelincirkan para ulama su’.Di antara mereka ada yang berkedok sebagai ilmuan atau cendekiawan muslim, padahal sejatinya adalah para pengasong agama yang profesinya sebagai tukang permak ayat dan hadits sesuai tuntutan dan selera tuan besarnya. Ada juga yang awalnya da’I atau mubaligh yang proses kemunculannya melalui semacam Audisi atau ajang pencarian bakat.  Mereka tiba-tiba tenar karena skenario opera pemilik industri media. Niat berdakwah sudah bergeser. Perannya di masyarakat bukan lagi sebagai pembimbing  umat, namun sudah selevel dengan para selebritis papan atas; penghibur dan menjadi tontonan yang mengasyikkan, yang setiap kali manggung ada tawar-menawar tarif. Moment Ramadhan menjadi ladang yang menggiurkan. Da’i-da’i selebritis ini melihat peluang yang besar untuk meraup keuntungan. Sebab, saat semacam itu media televisi memang berlomba untuk menaikkan rating iklannya dengan acara-acara hiburan yang berbau spiritual. Dan mereka akan menjadi tokoh utamanya.

Namun ada juga yang memang dari awal sudah didesain oleh suatu kelompok atau lembaga tertentu agar tokoh tersebut menjadi mascot produknya. Dengan bekal gelar doktor atau pakar ahli, para tokoh itu dengan sangat mudah untuk melegalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Menebar fitnah, memusuhi pembela syariah dan tiada henti menyesatkan manusia dari jalan Allah telah pekerjaan pokoknya.Tentu saja dengan imbalan dan bayaran yang sangat menggiurkan.

Bahkan para ulama jujurpun dibuatnya bingung

Dr. Al-Mubayyadh mengomentari hadits di atas; “Hadits ini menunjukkan sekelompok manusia yang menampakkan dirinya sebagai ahli badah, zuhud, dan lembut tutur katanya serta menyenangkan. Padahal mereka ini pada hakikatnya pencari dunia. Dunia adalah cita-cita terbesar mereka atau menjadi sesembahan mereka yang pertama.

Keadaan lahiriah mereka berlawanan dengan kondisi bathiniyah mereka.Hati mereka menyelisih lisan mereka. Mereka mencari dunia dengan mengerjakan amalan akhirat. Kelompok manusia seperti inilah yang menjadi penyebab fitnah di masyarakat.Fitnah apalagi yang lebih besar daripada orang-orang yang tampak sebagai ahli ibadah secarala hiriah, atau tampak sebagai pencari akhirat dalam pandangan orang, tetapi mereka sebenarnya adalah penyembah dunia? Arahan yang benar (menurut mereka) macam apakah yang akan didapatkan masyarakat umum dari orang-orang seperti ini?[1]

Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa adanya kelompok manusia berhati srigala ini di tengah masyarakat merupakan sebab utama terjatuhnya masyarakat kedalam fitnah yang menyesatkan. Saking gelap dan dahsyatnya fitnah itu sehingga menjadikan orang yang paling pantas mengetahui kebenaran pun menjadi bingung dalam mengurusi urusannya.

Jika para ulama dan orang jujur saja dibuat bingung menghadapi fenomena itu, lalu bagaimana dengan kita yang awam? Semoga Allah menyelamatkan kita dari fitnahmereka. Wallahua’lam bishshawab.*

Oleh: Abu Fatiah Al-Adnani
Penulis buku-buku akhir zaman

[1] Al-Mausu’ahfilfitanwalmalahimwaasyratussaah.
17:06 | 0 comments | Read More

Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Wednesday, January 4, 2017 | 13:45


Oleh: Dr. Adian Husaini
“MASA SMA” biasanya berkisar usia 15-18 tahun. Di Indonesia, program pendidikan masa SMA secara umum dibagi menjadi dua. Pertama, jalur SMU yang menyiapkan siswanya untuk  memasuki jenjang Perguruan Tinggi. Kedua, jalur SMK, yang menyiapkan siswanya untuk siap terjun ke dunia kerja. Di era 1980-an, pemerintah pernah memiliki program Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan (SMPP), yang menggabungkan dua jenis program itu dalam satu sekolah. Saya termasuk salah satu lulusan SMPP, tahun 1984.
Di tahun 1981-1984, atas nasehat orang tua, saya menjalani dua program pendidikan. Di SMPPN Bojonegoro dan di Pesantren al-Rosyid Kendal Bojonegoro. Dari ratusan siswa SMPPN Bojonegoro, hanya dua orang yang nyantri di Pesantren al-Rosyid. Di Pesantren inilah saya sempat belajar dan menamatkan sejumlah “Kitab Kuning”, seperti Matan al-Ajurrumiyah, Ta’limul Muta’allim, al-Amtsilah al-Tashrifiyyah, Uqudul-LujainRiyadhus Shalihin, dan sebagainya.
Disamping itu, saya masih rutin membaca Majalah Panji Masyarakat yang dipimpin Buya Hamka. Sejumlah buku sempat mempengaruhi pola pikir saya, seperti buku Tasauf Modernkarya Buya Hamka, Iman Jalan Menuju Sukses karya KH Najih Ahjat, al-Quran Dasar Tanya Jawab Ilmiah, Biologi Iman, dan sebagainya. Di pesantren ini pula saya mendapat kesempatan belajar hidup mandiri; dilatih hidup tanpa listrik, tidur tanpa kasur dan bantal, serta memasak dan mencuci sendiri. Uang Rp 5 ribu, cukup untuk sebulan.
Lulus dari jenjang SMPP, alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan kuliah tanpa tes ke IPB (Jalur Perintis II), dan ke Jurusuan Pendidikan Fisika IKIP Malang, melalui jalur PMDK.  Hasil istikharah, saya memutuskan kuliah di IPB.  Itu juga amanah sekolah, karena saya satu-satunya wakil SMPP untuk kuliah di IPB.  Seperti melanjutkan pendidikan pesantren, di Kota Bogor ini pula, saya berkesempatan belajar Islam kepada banyak ulama terkenal, seperti KH Abdullah bin Nuh, KH Tubagus Hasan Basri, KH Sholeh Iskandar, KH Didin Hafidhuddin, Ustad Abdurrahman al-Baghdadi, dan sebagainya.
Pengalaman belajar di SMA dan Pesantren itu terjadi lebih dari 30 tahun lalu. Dunia kini sudah banyak berubah. Perkembangan pesat dalam dunia komunikasi, mau tidak mau juga memaksa dunia pendidikan ikut berubah. Satu yang belum banyak berubah adalah “orientasi lulusan SMA”, masih terarah kepada “Perguruan Tinggi Favorit”. Bahwa, tujuan utama belajar di bangku SMA adalah menyiapkan diri untuk bisa kuliah di Perguruan Tinggi favorit.
Di bangku SMA pada umumnya, biasanya para siswa tidak diberikan kajian-kajian pemikiran yang serius tentang peradaban, tentang sejarah, tentang pemikiran Islam, tentang politik, ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya. Sebab, para siswa SMA dianggap masih “anak-anak”. Mereka dianggap belum dewasa. Dalam istilah lain, para siswa SMA dimasukkan ke dalam ketegori “Remaja”.
Lazimnya, dalam psikologi, remaja (adolensence) dianggap periode peralihan anak menuju dewasa. Ia tidak mempunyai tempat yang jelas. Anak bukan, dewasa belum. Masa remaja berkisar pada usia 12-21 tahun bagi wanita dan 13-22 pria. (http://belajarpsikologi.com/pengertian-remaja/).  Konon pula, menurut pakar Psikologi Perkembangan seperti Hurlock (1990), dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira umur 40 tahun. Secara umum, mereka yang tergolong dewasa muda (young) ialah mereka yang berusia 20-40 tahun. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan, Santrock (1999), orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik (physically trantition) transisi secara intelektual (cognitive trantition), serta transisi peran sosial (social role trantition).
Perkembangan sosial masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah masa beralihnya pandangan egosentris menjadi sikap yang empati. Pada masa ini, penentuan relasi sangat memegang peranan penting.” (http://www.psychoshare.com/file-119/psikologi-dewasa/perkembangan-dewasa-awal.html)
Tampak, bahwa konsep remaja itu didasarkan pada penelitian empiris yang sangat tergantung kepada objek penelitian. Padahal, kondisi objek penelitian itu sendiri, ditentukan oleh proses pendidikan yang diterimanya. Jika objek yang diteliti adalah komunitas orang bingung (golongan bingung/golbin), maka kesimpulan yang diraih pun kesimpulan bingung. Coba, yang diteliti adalah anak-anak muda yang sudah mantap iman dan pemikirannya, tentu definisi remaja pun akan berbeda.
Sudah dewasa
Pengkategorian “masa SMA” sebagai masa “remaja” dan “belum dewasa” kini mulai dipertanyakan.  Sebab, begitu memasuki umur  15 tahun, manusia sudah tergolong dewasa.  Adriano Rusfi adalah salah satu psikolog yang dikenal gencar mengkritisi kategorisasi remaja bagi usia SMP-SMA. Beberapa kali saya mendengar paparan beliau. Menurutnya, literatur psikologi abad ke-19 tak mengenal masa remaja (adolescence), karena masa remaja adalah produk abad ke-20 dimana telah lahir generasi dewasa fisik (baligh) namun tak dewasa mental (aqil).
Dengan “legalitas remaja”, seolah-olah anak dibiarkan berlama-lama menjadi anak-anak. Maka, lahirlah generasi yang matang syahwatnya, tetapi tanpa kematangan akal. Karena masih remaja, dan dianggap belum dewasa, maka usia remaja dianggap belum matang, dan masih belum bisa menentukan sikap hidupnya.
Pandangan Adriano Rusfi ini menarik. Sebab, memang tidak jarang muncul kerancuan. Manusia berusia 17 tahun, sudah mampu memperkosa dan membunuh, tetapi dikategorikan status hukumnya sebagai “anak-anak”.  Dalam Islam, jika seorang sudah memasuki tahap ‘baligh’, maka ia sesungguhnya telah dewasa. Ketika itulah seharusnya ia dididik sebagai manusia dewasa. Tentu saja sesuai dengan kondisi usianya.
Dalam UU Perkawinan No 1/1974, batas minimal usia menikah bagi wanita adalah 16 tahun. Batas umur itu mengindikasikan, sepatutnya seorang wanita telah disiapkan jiwa raganya untuk menjadi dewasa. Pendidikan harus mendewasakan dan memandirikan; bukan justru memaksa anak berlama-lama menjadi anak-anak.
Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Umar r.a. disebutkan, bahwa Rasulullah saw memanggil Abdullah bin Umar untuk hadir ke hadapan beliau menjelang Perang Uhud. Ketika itu usia Abdullah 14 tahun. Dan Rasul tidak mengijinkannya ikut berperang. Kemudian Rasulullah saw kembali memanggil Abdullah hadir ke hadapan beliau menjelang Perang Khandaq. Usia Abdullah bin Umar  ketika itu 15 tahun. Rasulullah saw lalu mengijinkan Abdullah berperang.” Nafi’ berkata, “Aku datang kepada Umar bin Abdul Aziz yang merupakan Khalifah pada waktu itu dan menyampaikan riwayat tersebut. Khalifah berkata, “Usia ini (15 tahun) adalah batas antara anak-anak dan dewasa.” Dan beliau perintahkan kepada para gubernur untuk memberikan tunjangan kepada siapa saja yang telah mencapai usia 15 tahun.” (HR Bukhari).
Jadi, berdasarkan pada hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tersebut, dan juga berbagai fakta sejarah pendidikan, bisa dipahami, bahwa usia 15 tahun adalah masa anak-anak memasuki masa dewasa. Jangan sampai dalam masa usia 15 tahun, para siswa tidak disiapkan jiwa dan raganya agar benar-benar menjadi manusia dewasa yang sejati. Rasulullah saw telah memberikan teladan, bagaimana mendidik anak-anak umur belasan tahun menjadi matang di usia yang sangat muda.
Kisah yang masyhur menyebutkan, bahwa Usamah bin Zaid, diangkat oleh Nabi saw menjadi Panglima Perang di usia 18 tahun. Dalam sebuah peperangan melawan Romawi, Usamah memimpin pasukan yang di dalamnya ada Abu Bakar ash-Shiddiq r.a., Umar bin Khathab r.a., dan lain-lain. Usamah mulai diijinkan ikut perang pada usia 15 tahun.
Abdullah bin Umar dan al-Barra’ saat berumur 13 tahun belum diijinkan Nabi untuk ikut perang, meskipun mereka mengajukan diri.  Diantara sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam yang masuk Islam di usia yang sangat muda adalah Ali bin Abi Thalib (10 tahun), Thalhah bin Ubaidillah (14 tahun), Zubair bin Awwam (16 tahun), Saad bin Abi Waqqash (17 tahun), Said bin zaid 15 tahun, dan sebagainya. (http://risalahislamterkini.blogspot.co.id/2015/06/anak-anak-muda-di-sekitar-rasulullah-saw.html).
Di Indonesia, pun banyak dijumpai tokoh-tokoh yang sudah matang jiwa dan raganya di usia belasan tahun. Menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, ayah beliau, yakni KH Imam Zarkasyi mendirikan pesantren Gontor di usia 16 tahun.  Haji Agus Salim diangkat sebagai Konsul Hindia Belanda di Jeddah pada usia 20 tahun. Mohammad Natsir sudah berdebat dengan pendeta Belanda saat duduk di bangku SMA. Lulus SMA, Pak Natsir terjun langsung menjadi guru dan mendirikan sekolah sendiri (Pendis:Pendidikan Islam), tahun 1932.
Sejumlah tokoh PKI pun mulai berkiprah di usia sangat muda. Contohnya, Semaoen. Pada usia sekitar 18 tahun, ia sudah memimpin Sarekat Islam (SI) Semarang bersama rekannya, Darsono. Akhirnya, Semaoen keluar dari SI dan mendirikan Persyarekatan Komunis India (PKI) yang kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia/PKI. (lihat Suradi; Haji Agus Salim dan Konflik Politik dalam Sarekat Islam, Pustaka Sinar Harapan, 1997).https://serbasejarah.wordpress.com/2009/04/22/kaum-muda-penggerak-revolusi-indonesia/
Dr. Erma Pawitasari, dalam sebuah makalahnya berjudul “Pendidikan Khusus Perempuan: Antara Kesetaraan Gender dan Islam”, mengungkap hasil penelitian Frances E. Jensen, seorang ahli neurologi, yang menemukan bahwa pertumbuhan otak perempuan mencapai puncaknya pada usia 12-14 tahun. Sedangkan otak laki-laki-laki mencapai puncak pertumbuhannya pada usia 14-16 tahun.
PRISTAC
Berdasarkan data sejarah dan fakta perkembangan otak manusia tersebut, bisa disimpulkan, bahwa rentang usia sekitar 12-18 tahun (jenjang SMP-SMA) adalah masa keemasan untuk menanamkan adab dan pemikiran Islam. Sejarah pendidikan di Indonesia juga menunjukkan hal yang sama. Pada tahun 1906, di Jakarta sudah berdiri sebuah sekolah (Jamiat al-Khair) setingkat SMA yang guru-gurunya adalah ulama-ulama dari Tunisia, Sudan, Saudi dan lain-lain.
Menurut Pak Natsir, ketika duduk di bangku SMA Belanda di Bandung, ia diwajibkan membaca minimal 36 buku untuk satu mata pelajaran. Dulu, lulusan Mu’allimin dari berbagai lembaga dan organisasi Islam sudah disiapkan untuk menjadi manusia dewasa yang mampu terjun ke tengah masyarakat sebagai guru yang baik.
Jadi, itu semua menunjukkan, bahwa “masa SMA” (sekitar 15-18 tahun) bukanlah sekedar masa persiapan untuk memasuki jenjang Pendidikan Tinggi. Keliru, jika ada pemikiran, mereka masih anak-anak sehingga jangan diberikan beban pendidikan dengan muatan pemikiran yang serius. Karena “usia SMA” adalah usia dewasa, maka para siswa harus dididik sebagai orang dewasa, dan disiapkan menjadi pejuang, untuk terjun ke tengah masyarakat atau menjadi pemimpin saat kuliah di Perguruan Tinggi.
Untuk itulah, beberapa bulan lalu, bersama sejumlah pakar pemikiran Islam di INSISTS dan praktisi pendidikan di Pesantren Shoul Lin al-Islami, kami mendirikan sebuah program pendidikan bernama “Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization (PRISTAC)”.
PRISTAC adalah program pendidikan pesantren (non-formal) setingkat SMA, yang dirancang untuk melahirkan kader-kader intelektual muslim yang beradab jiwa-raga, cerdas, mandiri, cinta ilmu dan semangat ber-amar ma’ruf nahi munkar untuk kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia.
PRISTAC dipimpin langsung Ust. Alwi Alatas, kandidat doktor ilmu sejarah di International Islamic University Malaysia, penulis produktif,  dan praktisi pendidikan yang berpengalaman. PRISTAC juga menyiapkan guru-guru yang terdiri atas para doktor dan pakar pemikiran dan peradaban Islam. Bahasa pengantar digunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab sebagai bahasa riset. Selama satu tahun, para santri diwajibkan mengikuti matrikulasi bahasa Inggris, bahasa Arab, dan adab. (lihat, www.ponpes-attaqwa.com).
Merujuk QS Luqman ayat 17, maka jelas kita diperintahkan Allah SWT agar menyiapkan anak-anak kita menjadi pejuang penegak kebenaran.  “Wahai Anakku, dirikanlah shalat, dan berjuanglah menegakkan kebaikan dan mencegah kemunkaran, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu…” (QS Luqman: 17). QS al-Anfal:65-66 menjelaskan, bahwa Nabi Muhammad saw diperintah menyiapkan orang-orang mukmin agar memiliki kekuatan jauh lebih hebat dari orang-orang kafir. QS Ali Imran:110 pun menegaskan bahwa umat Islam adalah umat terbaik, yang tugasnya melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.
Begitu pentingnya kewajiban amar ma’ruf nahi munkar itu, sampai Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin menyebutkan, bahwa aktivitas amar ma’ruf nahi munkar adalah aktivitas yang menentukan hidup dan matinya umat Islam. Karena itu, jika umat Islam kalah dalam berbagai bidang kehidupan, maka patut dilakukan evaluasi yang serius kondisi pendidikan kita. Apakah sekolah, keluarga, pesantren, masjid, majelis ta’lim, dan juga Perguruan Tinggi Islam benar-benar serius menyiapkan peserta didiknya untuk menjadi pejuang amar ma’ruf nahi munkar?
Kita ingat pula, bahwa sejak tahun 1977, dalam Konferensi Internasional Pendidikan Islam di Kota Mekkah, “The purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a good man… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab…”.  Teori pendidikan Prof. Naquib al-Attas yang fenomenal adalah bahwa krisis multidimensi yang diderita oleh umat Islam saat ini adalah berakar pada “loss of adab” (hilang adab).
Teori Prof. al-Attas itu mempunyai rujukan yang kuat dalam al-Quran, hadits Nabi, dan tradisi pendidikan para ulama salaf.  Dalam Tafsir Ibn Katsir, disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib r.a. menjelaskan makna QS at-Tahrim:6: “Didiklah keluargamu agar menjadi manusia beradab dan berilmu.”  Sabda Nabi saw:  “Akrimū aulādakum, wa-ahsinū adabahum.” (Muliakanlah anak-anakmu dan  perbaikilah adab mereka). (HR Ibn Majah). 
Imam asy-Syafii rahimahullah,  pernah ditanya, “Bagaimana usaha Tuan dalam mencari adab?” Sang Imam menjawab, ”Aku senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” (Kitab Adab al- ‘Ālim wal-Muta’allim,  karya KH Hasyim Asy’ari).
Untuk menanamkan adab dalam diri santri, pada umur 10-14 tahun, para santri Pesantren at-Taqwa (Shoul Lin al-Islami) Depok, telah diajarkan kitab-kitab adab berbahasa Arab Melayu seperti Kitab Adabul InsanRisalah Dua Ilmu, dan Gurindam 12. Mereka juga diajar kitab adab berbahasa Arab, seperti Ayyuhal Walad dan Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali. Bahkan, pada Oktober 2016, para santri Shoul-Lin al-Islami tingkat SMP dikirim ke Jawa Timur untuk mengkhatamkan kitab Adab al- ‘Ālim wal-Muta’allim.
Dalam pembinaan badan, setiap hari mereka berlatih silat, pagi dan sore.  Itu semua dilakukan, agar ketika memasuki jenjang SMA, mereka sudah memiliki adab yang baik; mereka sudah beradab jiwa dan raga; mereka sudah terbangun jiwa dan raganya; dan sudah memiliki sikap cinta ilmu. Alhamdulillah, kami bersyukur kepada Allah, bahwa program pendidikan yang singkat itu telah menampakkan hasil yang cukup baik. Tentu saja itu semua juga dipengaruhi oleh faktor kesungguhan dan keikhlasan para guru dan dukungan orang tua.
Akhirul Kalam, untuk menunaikan amanah kita sebagai orang tua, jangan sampai kita menyia-nyiakan “usia SMP dan SMA”, dimana anak-anak sebagian besar waktunya digunakan hanya untuk latihan menjawab soal-soal ujian.  Jangan sampai mereka tidak dilatih untuk menjadi manusia beradab. Mereka juga harus dilatih menjawab soal-soal kehidupan; dikenalkan secara serius siapa Allah, siapa dirinya, dan hakikat dunia serta hakikat kehidupan akhirat.
Kita simak, ungkapan-ungkapan indah gubahan kata Raja Ali Haji dalam Gurindam 12, yang berisikan ajaran-ajaran adab:
//Barang siapa tiada memegang agama/sekali-sekali tiada boleh dibilangkan
nama//barangsiapa mengenal yang empat/maka yaitulah orang yang
makrifat//barangsiapa mengenal Allah/suruh dan tegahnya tiada ia
menyalah//barangsiapa mengenal diri/maka telah mengenal Tuhan yang
bahri//barangsiapa mengenal dunia/tahulah ia barang yang terperdaya//barangsiapa
mengenal akhirat/tahulah ia dunia mudharat//(fasal 1)

//Jika hendak mengenal orang berbangsa/lihat kepada budi dan bahasa//jika hendak mengenal orang yang berbahagia/sangat memeliharakan yang sia-sia//jika hendak mengenal orang mulia/lihatlah kepada kelakuan dia//jika hendak mengenal orang yang berilmu/bertanya dan belajar tiadalah jemu//jika hendak mengenal orang yang berakal/di dalam dunia mengambil bekal//jika hendak mengenal orang yang baik perangai/lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai// (fasal 5).

Itulah sebagian contoh indahnya ajaran adab dalam Kitab klasik Gurindam 12 karya Raja Ali Haji yang ditulis huruf Arab Melayu. Sayang, jika khazanah yang begitu indah, tidak diajarkan di rumah dan sekolah-sekolah kita. Pendidikan kita harus dirancang untuk melahirkan manusia-manusia yang adil dan beradab. Ketika lulus jenjang SMA, mereka telah siap menjadi manusia dewasa yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan bangsanya. Mereka siap terjun sebagai pendidik, sekaligus siap menjadi pemimpin ketika melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi.
Jadi, jangan sia-siakan “masa SMA”! Semoga Allah meridhai langkah kita. Amin.*/Bandung, 27 November 2016
Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com
13:45 | 0 comments | Read More

Islamic Sunday Chapter Cianjur: "The Power of Love With Allah SWT" dengan Koordinator ODOJ Jawa Barat

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Tuesday, November 22, 2016 | 19:17

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sahabat Mentari sekalian, Islamic Sunday akhir pekan ini begitu spesial karena langsung dijalankan di 2 Tempat yaitu Cipanas dan Cianjur.

Kali ini Islamic Sunday Chapter Cianjur Presents: "The Power of Love With Allah SWT" bersama Ustadz Rhamlan Mardiansyah yang juga sebagai Koordinator Komunitas One Day One Juz (ODOJ) Jawa Barat

Catat Tanggal dan Tempat Acaranya ya Sahabat sekalian:

Tempat: Aula SDIT Permata Hati Cianjur (Jalan KH Abdullah Bin Nuh)
Waktu: 08.30 - 12.00 WIB
Hari dan Tanggal: Ahad, 27 November 2016
Special Performance: "Nasyid March Coustic"

Cara Daftar:
DaftarIS_Nama_AsalSekolah/Kampus/Umum
Kirim ke: 0877 1435 5169

Informasi Lebih Lanjur:
WA: 0899 7594 549
Pin BB: 5F94AF08

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
19:17 | 0 comments | Read More

Islamic Sunday Chapter Cipanas Dengan Pasangan Muda Penghafal Qur'an, 27 November 2016

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Islamic Sunday Mentari is Back
Kali ini bersama Pasangan Muda Penghafal Qur'an yang akan memotivasi para Sahabat bagaimana cara menghafal AlQur'an di Masa Muda. Rugi banget Sahabat kalau gak hadir di acara super keren ini.

Insya Allah Bersama Pasangan Muda Penghafal Qur'an yaitu Fika dan Syahid yang akan diselengarakan pada:
Hari dan Tanggal: Ahad, 27 November 2016
Waktu: 08.00 WIB - Selesai
Tempat: Aula Rabbani Cipanas Lantai 2
Untuk Pelajar dan Mahasiswa dan Gratis. Sekali lagi, Rugi banget pokoknya kalau Sahabat sekalian gak datang. Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi Teh Nita di 08567998228

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
18:53 | 0 comments | Read More

Alhamdulillah YPR Mentari Cianjur Terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) Kabupaten Cianjur

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji kehadirat Allah SWT dengan segala izin-Nya Yayasan Peduli Remaja Mentari Cianjur sudah terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) Kabupaten Cianjur.

Setelah sejak Bulan Mei Tahun 2007 YPR Mentari Cianjur terdaftar di Notaris, dimana hal ini kami lakukan agar segala aktivitas dibawah Yayasan Sah di mata Hukum dan kembali diperbaharui Bulan Januari 2016 (Baca: Tentang Yayasan Peduli Remaja Mentari). Maka pada Bulan November 2016 ini YPR Mentari Cianjur mengajukan kepada Badan KESBANGPOL Cianjur agar diakui legalitasnya.

Hal ini diperlukan untuk mendapatkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT), sehingga Yayasan yang telah berdiri diakui oleh Pemerintah Kabupaten Cianjur sebagai lembaga yang legal.


Semoga dengan terbitnya Surat dari Badan KESBANGPOL Kabupaten Cianjur semakin membuat segala aktivitas Yayasan lebih berkah untuk masyarakat Kabupaten Cianjur dan diakui legalitasnya.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabakaratuh
17:16 | 0 comments | Read More

Ini Surat MUI Kepada Syekh Besar Al Azhar Soal Syekh Wardani

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Tuesday, November 15, 2016 | 12:09

Syaikh Ahmed Al Thayyib

Majelis Ulama Indonesia (MUI) membenarkan ketidakhadiran ulama Mesir Syekh Musthofa Amr Wardani sebagai saksi ahli dari pihak Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Kemarin, MUI telah menyampaikan surat kepada Duta Besar Mesir untuk Indonesia, Ahmed Amr Ahmed Moawad, untuk diteruskan ke Grand Syekh Al-Azhar dan Mufti Republik Arab Mesir, Ahmad Thayyib.
Berikut isi surat tersebut yang telah dikonfirmasi oleh Republika.co.idkepada Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri Muhyiddin Junaidi:

Kepada Yang Mulia
Prof Dr. Ahmad Thayyib
Grand Syekh Al-Azhar dan Mufti Republik Arab Mesir.
Di Cairo

Kami berharap semoga surat ini sampai kepada Anda dan Anda dalam keadaan sehat yang sempurna dan Mesir mendapatkan kemajuan, kebesaran dan kemakmuran, baik bangsa maupun negera.

Merujuk kepada berita yang beredar tentang kunjungan Syekh Mustafa Amr Wardani dari Kantor Pusat Darul Ifta Republik Arab Mesir, negara sahabat Indonesia, sebagai saksi ahli terhadap kasus penodaan dan pengejekan ayat 51 surah al-Maidah yang dilakukan oleh Gubernur Jakarta ketika berpidato di depan khalayak ramai, kami menyampaikan beberapa hal sbb:

1. Bahwa kunjungan ini menimbulkan kehebohan yang besar di kalangan bangsa Indonesia yang beragama Islam, karena hal ini bisa menimbulkan pertengkaran dan perpecahan dan membangkitkan fitnah demi fitnah yang kuat dan keributan di kalangan para ulama, pemikir, pejabat, para politisi dan pemimpin agama dari bermacam-macam organisasi dan perkumpulan di kalangan bangsa Indonesia yang terkenal posisinya sebagai moderat dan saling menghormati.

2. Kunjungan ini dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan politik campur tangan urusan dalam negeri negara lain yang mempunyai kehormatan yang sah dan legal untuk mengurus dirinya sendiri.

3. Kunjungan ini merupakan tindakan yang tidak menganggap hak dan otoritas MUI sebagai lembaga yang punya hak secara legal untuk mengeluarkan fatwa dan sikap keagamaan bagi bangsa Indonesia, yaitu majelis yang Anda dihormati ketika berkunjung bulan Februari 2016. Yaitu Majelis yang menjadi pengemban pelayanan kepada bangsa Indonesia yang terdiri dari 70 Organisasi Islam.

4. Kunjungan ini telah dimanfaatkan oleh kelompok tertentu dari dalam dan luar untuk mengganggu hubungan bilateral kenegaraan antara kedua negara, baik secara bangsa maupun negara.

Karena itu, kami meminta untuk melihat permasalahan ini dengan teliti dan penuh perhatian dan menggunakan segala kemampuan Anda untuk membuat langkah yang cepat untuk menjaga Islam dan kaum Muslimin di kedua negara, dan kami ingatkan dengan sangat karena bisa membangkitkan robeknya ukhuwah Islamiyah dan menanamkan berbagai fitnah.

Kantor Pusat MUI, 

Ttd Dr Ma’ruf Amin (Ketua Umum)

Ttd Dr. Anwar (Sekretaris Umum)

Sumber: Republika.co.id
12:09 | 0 comments | Read More

Kepala Anak Umur 13 Tahun Pecah Karena Jatuh Dari Motor, Ibunya Gak Percaya

gambar adalah hasil ct scan 3D tulang tengkorak tampak tulang patah bagian belakang tengkorak
Cegah anak mengendarai motor, cerita seorang dokter di bawah ini harusnya menjadi bahan pengalaman bagi para orang tua untuk mencegah anak dibawah 17tahun naik motor. Berikut cerita seorang dokter di Pekanbaru:
“Malam tadi, kedatangan pasien anak 13 tahun, jatuh dari motor. Si anak gaduh gelisah, kesadarannya menurun. Ada luka robek di kepalanya. Karena lukanya besar dan kesadaran turun dilakukan ct scan plus 3D.
Lalu tampaklah tulang tengkorak yang patah sepanjang 10-15 cm di bagian belakang kepala.
Ibu pasien bertanya tentang keadaan anaknya, saya jelaskan si anak mengalami geger otak.
Lalu si ibu nangis sedih, dan saya tanya kenapa si anak bawa motor?
Ibupun menjawab, dia memang sudah pandainya bawa motor (logat batak)
Lalu saya jawab, seperti inikah yg ibu maksud pandai bawa motor? (Sambil nunjuk ke anak)
Wahai bapak, ibu, orang tua yang punya rasa kasih sayang pada anaknya, perbaikilah cara kita menyayangi anak kita mulai saat ini, memberikah motor disaat usia anak masih belia bukan cara terbaik utk wujudkan rasa sayang itu. 
Memang dia pandai bawa motor, tapi emosi dia belum lagi pandai mengatasi keadaan jalan raya. Bukankah angka 17 tahun dijadikan patokan usia utk mendapat SIM bukan sekedar di usia 17 tahun orang baru bisa belajar motor? Tapi pengendalian emosi baru kan bisa dicapai dengan baik ketika usia 17 tahun.
Sumber: roda2blog.com
11:53 | 0 comments | Read More

Jangan Tertipu dengan Dajjal-dajjal Kelas Teri

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Wednesday, October 5, 2016 | 17:03


Saya tidak bisa bayangkan, jika sekelas Kanjeng Dimas pengganda uang sanggup membutakan mata dan hati orang sekelas Marwah Daud (Lulusan S3 dan Intelektual); maka bagaimana jika yang ada itu fitnah Dajjal?

Dajjal datang dengan kekuatan dan fitnah luar biasa. Negeri kerontang yang menyambut seruannya dalam sekejap diubah menjadi subur, hijau dan makmur. Demikian sebaliknya, negeri yang semula hijau diubah menjadi mati kering lantaran menolak ajakannya.

Sungguh fitnah yang luar biasa. Bahkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menyatakan sebagai Fitnah paling besar yang didapati umatnya. Tidak ada yang melebihi besarnya.

Maka itulah beliau ajarkan kita do'a berlindung dari fitnahnya pada setiap akhir shalat sebelum salam. Demikian pula satu amalan yang kata Nabi, jika konsisten dikerjakan akan memelihara hamba dari fitnah Dajjal, yakni membaca Surah Al Kahfi pada hari jum'at.

Semoga Allah Ta'ala selamatkan kita dari fitnah Dajjal; serta menghindarkan kita dari bertemu dengan zaman di mana Dajjal itu keluar menebar fitnah dan kekufuran. (Ustadz Rappung Samuddin)

***

Orang-orang yang katanya bisa melakukan keajaiban-keajaiban di dunia ini, entah berpakaian ala ustadz, kiyai, syaikh atau semacamnya semua itu hanyalah diantara dajjal-dajjal kelas teri yang akan muncul sebelum kedatangan dajjal yang sesungguhnya di akhir zaman kelak.

Dahulu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam muncul sosok lelaki dajjal bernama Ibnu Shayyad. Kemudian di India ada seorang lelaki yang bernama Sai Baba yang terdengar beritanya di seantero negri yang katanya bisa menghidupkan dan mematikan, bisa menyembuhkan seorang yang buta ataupun lumpuh dan berbagai keajaiban lainnya.

Kini di Indonesia, muncul sosok laki-laki yang berpenampilan layaknya kiyai, menyihir mata-mata manusia dengan kedustaannya bisa menggandakan uang. Ooh kiyai, dia mirip kiyai, kiyai Kanjeng Dimas Taat Pribadi namanya. Ajaib kata mereka, ajaib bisa melakukan sesuatu di luar kemampuan manusia pada umumnya.

Lalu manusia-manusia yang memilki sederet gelar akademik tinggi mencoba membelanya. Kenapa mirip kiyai, ustadz, dan membawa nama atau pakaian islam?? Jawabannya adalah karena islam adalah agama yang haq, maka syaithan menggunakan baju Islam untuk menyesatkan manusia.

Jika keajaiban yg mereka lakukan belum seberapa, maka akan ada 30 dajjal yang keluar untuk menyesatkan manusia, sebelum datangnya hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 لا تقوم الساعة حتى يبعث دجالون كذابون قريب من ثلاثين. كلهم يزعم أنه رسول الله

“Kiamat tidak akan terjadi hingga para dajjal pendusta yang jumlahnya dekat 30 orang muncul, semuanya mengaku Nabi. ” (HR. Bukhari Dan Muslim)

Maka pakaian keislaman, nabi, atau lainnya adalah cara empuk yang dipakai oleh syaithan untuk menyesatkan manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنِّي قَدْ حَدَّثْتُكُمْ عَنْ الدَّجَّالِ حَتَّى خَشِيتُ أَنْ لا تَعْقِلُوا

“Sungguh saya telah mengabari kalian tentang dajjal hingga aku khawatir kalian akan seperti orang yang tidak berakal.” HR. Abu Dawud

Jika dajjal seperti kiyai kanjeng dimas telah tertangkap dan terbukti kedustaannya, maka akan muncul dajjal-dajjal kelas teri lainnya sepertinya yang bisa menipu banyak orang dengan keajaiban yang lebih hebat darinya. Mohonlah perlindungan kepada Allah dari orang-orang seperti mereka dan dajjal yang akan datang dengan “mega” keajaiban. Na’udzu billahi min syarri fitnati al-masih ad-dajjal. (www.wahdah.or.id)
17:03 | 0 comments | Read More