Powered by Blogger.

Kronologi Insiden Pembakaran Mesjid di Tolikara Versi Komite Umat (Komat)

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Friday, July 31, 2015 | 22:03

 Setelah hampir seminggu menurunkan tim pencari fakta, Komite Umat untuk Tolikara Papua (Komat Tolikara) akhirnya Jumat siang (31/07/2015) mengeluarkan temuannya.

Komat menemukan fakta, adanya surat dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Badan Pekerja Wilayah Toli bernomor 90/SP/GIDI-WT/VII/2015 yang ditandatangani oleh Ketua Wilayah Toli, Pdt Nayus Wenda, S.Th dan Sekretaris, Pdt Marthen Jingga S.Th, MA dengan tembusan Polres Tolikara.
Dalam surat yang ditujukan kepada umat Islam se-Kabupaten Tolikara  GIDI memberitahukan adanya kegiatan Seminar dan Kebaktian Kebangkitan Ruhani (KKR)  Pemuda Geraja Injili Di Indonesia (GIDI) tingkat Internasional pada tanggal 13-19 Juli 2015.
Surat itu juga berisi poin-point LARANGAN kepada umat Islam:

* Acara membuka lebaran tanggal 17 Juli 2015, kami tidak mengijinkan dilakukan di wilayah Kabupaten Tolikara, “ demikian diantara larangan GIDI.

* GIDI membolehkan umat Islam merayakan hari raya di luar Kabupaten Tolikara (Wamena) atau Jayapura.

* Selain itu, GIDI juga  melarang muslimah memakai pakai Yilbab (jilbab, red).

Di bawah ini kronologi temuan Komite Umat untuk Tolikara Papua (Komat Tolikara) yang dibacakan Fadhlan Rabbani Garamatan.

Senin, 13 Juli 2015
1. Selembar surat ditemukan oleh anggota intel Polres, Bripka Kasrim yang tengah berada di Pos Maleo. Surat tersebut berasal dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Badan Pekerja Wilayah Toli dengan nomor surat 90/SP/GIDI-WT/VII/2015 yang ditandatangani oleh Ketua Wilayah Toli, Pdt Nayus Wenda, S.Th dan Sekretaris, Pdt Marthen Jingga S.Th, MA dengan tembusan Polres Tolikara. Surat yang ditujukan kepada umat Islam se-Kabupaten Tolikara ini memberitahukan adanya kegiatan Seminar dan Kebaktian Kebangkitan Ruhani (KKR) Pemuda Geraja Injili Di Indonesia (GIDI) tingkat Internasional pada tanggal 13-19 Juli 2015.
Dalam surat itu juga berisi poin-point LARANGAN yang kami tulis sebagaimana aslinya, sebagai berikut:
* Acara membuka lebaran tanggal 17 Juli 2015, kami tidak mengijinkan dilakukan di wilayah Kabupaten Tolikara
* Boleh merayakan hari raya di luar Kabupaten Tolikara (Wamena) atau Jayapura.
* Dilarang Kaum Muslimat memakai pakai Yilbab (jilbab, red).

2. Anggota intel, Bripka Kasrim memfoto surat, kemudian melaporkan melalui alat telekomunikasi handy talky kepada Kapolres Tolikara saat itu, AKBP Soeroso, SH, MH tentang adanya surat tersebut. Foto surat itu pun dikirimkan kepada Kapolres, dan Kapolres langsung mencetak foto tersebut.

3. Selanjutnya, Kapolres melalui telepon menghubungi Bupati Tolikara, Usman Wanimbo. Saat komunikasi itu, diketahui Bupati sedang berada di Jakarta, dan baru akan kembali ke Tolikara pada keesokan harinya (14/7). Namun, Kapolres tetap menyampaikan perihal isi surat tersebut dengan membacakannya.

Menanggapi informasi itu, menurut Kapolres, Bupati menyampaikan, “Itu tidak betul! Saya akan telepon ketua GIDI wilayah Tolikara. Saya akan minta itu (surat) dicabut atau diralat.”
Lalu, Kapolres menyatakan, “Itu yang saya mau, karena itu akan menimbulkan keresahan umat Islam.”

4. Kapolres juga menghubungi Presiden GIDI, Pdt.Dorman Wandikbo, S.Th di Jayapura, melalui telepon. Komunikasi melalui telepon itu direkam oleh Kapolres. Menanggapi informasi dari Kapolres, berikut ini kutipan tanggapan Presiden GIDI dalam rekaman yang kurang jelas suaranya itu, “Pak Kapolres, nanti saya akan berkordinasi dengan adik-adik ….”
Kapolres kembali menyatakan, “Jadi izin Bapak, untuk pengamanannya kami sudah siap mengamankan seluruh kegiatan GIDI maupun kegiatan lebaran. Jadi kami sudah siapkan pengamanan, TNI dan Polri akan bersama-sama agar kegiatan ini aman kondusif dan lancar tanpa hambatan. Kedua, saya juga sudah lapor Pak Bupati. Pak Bupati sependapat dengan Presiden GIDI, nanti Pak Bupati akan tiba di Tolikara lagi. Saya harap agar tidak menimbulkan keresahan bagi warga Muslim, mohon ditinjau kembali dan dicabut agar tidak menimbulkan permasalahan. Terutama masalah SARA, Pak Presiden.”

Presiden GIDI juga mengatakan. “Saya akan telepon Pak Bupati sebentar, saya juga akan telepon Pak Nayus, dan juga adik sekretaris. Saya akan telepon mereka, Bapak. Sekali lagi itu anak-anak emosional, saya sampaikan permohon maaf. Cukup Bapak saja tidak usah sampaikan kepada teman-teman Muslim yang lain. Itu sangat tidak sehat, dan kurang sehat untuk surat itu. Saya pesan begitu”

Kapolres menyatakan, “Baik, itu hanya akan di tangan saya saja. Nanti tokoh-tokoh Muslim nanti akan saya panggil juga.”

Rabu, 15 Juli 2015
1. Kapolres kembali melakukan komunikasi dengan Bupati dan Presiden Geraja Injili Di Indonesia (GIDI), karena pada siang hari itu akan ada acara pembukaan Seminar dan KKR. Namun Kapolres tidak mengikuti acara pembukaan, karena ada perang suku di Kampung Panaga, Tolikara. Kapolres berangkat ke lokasi perang suku itu bersama Bupati dan Ketua DPRD Kab Tolikara.

2. Pada malam harinya, Kapolres yang mendapat kabar ada peresmian monumen Geraja Injili Di Indonesia (GIDI) di bagian atas Tolikara. Dalam acara peresmian monumen itu, Muspida yang hadir hanya Kapolres. Kehadiran Kapolres saat itu hanya ingin menegaskan kepada Presiden GIDI agar tidak terjadi gejolak. “Pak, saya ingatkan kembali tanggal 17 Juli, umat Islam akan melaksanakan Idul Fitri. Masalah surat kemarin agar ditindaklanjuti.”

Kepada Kapolres, Presiden Geraja Injili Di Indonesia (GIDI) dengan tegas menyatakan dan menjamin shalat Idul Fitri. “Iya gak apa-apa, Pak Kapolres. Silakan dilanjutkan.”
Pak Kapolres membalas, “Pak mohon ijin, masalah surat kemarin itu agar ditindaklanjuti.”
Kapolres juga menyatakan, bahwa ada ada orang asing yang datang, yaitu dari perwakilan Israel, Belanda, dan Papua Nugini (untuk menghadiri KKR).*


















Kamis, 16 Juli 2015 
  1. Sore hari, Kapolres menelepon Presiden GIDI lagi, namun tidak diangkat. Lalu mengirimkan pesan singkat yang isinya : Mohon ijin saya telepon, mohon diangkat. Baru dijawab 30 menit kemudian, namun saat dihubungi telepon tidak terangkat. Dan hanya membalas dengan SMS, “Maaf Bapak, saya sedang di lapangan.”
  2. Akhirnya, Kapolres mengirim pesan singkat: “Bapak ijin mengingatkan kembali bahwa besok shalat Idul Fitri mulai dari 06.30 – 07.30.” Presiden GIDI menjawab pesan singkat itu: “Baik Bapak, terima kasih. Selama melaksanakan shalat, Tuhan memberkati.”
  3. Malam hari, sebelum ada pengumuman isbat 1 Syawal, Kapolres mendatangi masjid sekitar pukul 19.30 WITA, kesepakatan para pengurus pelaksanaan shalat dilaksanakan di halaman Markas Koramil, karena masjid hanya menampung 100 orang jamaah, sedangkan jamaah shalat diperkirakan 300 orang. Kapolres juga menyatakan siap memberikan pengamanan selama shalat Ied.
  4. Arkam Jalil, salah seorang warga Muslim mengaku pada malam itu belum mendapat kepastian perihal diadakan shalat Id. Berkaitan dengan adanya surat edaran dari GIDI yang sudah beredar di tengah masyarakat.
Jum’at, 17 Juli 2015
  1. Pukul 7 pagi, shalat Idul Fitri dimulai. Sebelum itu, Kapolres yang duduk di belakang imam shalat Id, Junaedi, agar pelaksanaan shalat Ied harus sudah selesai pukul 07.30 WIT.
  2. Konsentrasi massa sudah mulai berkumpul di 3 titik yang mengarah ke lokasi shalat Id. Pertama, depan kantor BPD. Kedua, dari arah Jalan Irian yang akan masuk melalui jalan samping Markas Koramil. Ketiga, Jl Gili Batu yang berada di bawah Markas Koramil.
  3. Lettu Inf TNI Wahyudi Hendra, Komandan Pos Pengamanan Daerah Rawan (Pos Pam Rawan) mengaku, pada takbir kedua sudah mendengar suara massa yang memprovokasi dengan melempar atap seng kios dan teriakan-teriakan hentikan shalat. Mendengar itu, Lettu Wahyudi langsung meninggalkan shalat sambil mengajak pasukan lainnya yang tengah shalat. Wahyudi langsung memerintahkan memperkuat anggota TNI yang tengah berjaga bersama Brimob dan anggota polisi Polres.
  4. Sementara itu, Kapolres meninggalkan shalat saat takbir ke-7. Bahkan Kapolres meminta agar Imam menghentikan Shalat. “Pak Ustadz, sudah hentikan nggak usah dilanjutkan.” Kapolres langsung balik kanan dan langsung menugaskan anggota polisi untuk mengamankan ibu-ibu dan anak-anak ke belakang kantor Koramil.
Dalam penuturan yang sama, Kapolres dan Komandan Pos Pam Rahwan, mendengarkan adanya teriakan massa, “Hentikan…bubarkan …” diiringi lemparan batu, seng, dan kayu ke arah jamaah yang makin riuh.

Menurut Kapolres, massa yang pertama mendesak masuk dari titik pertama berjumlah 150 orang. Massa dari titik ini melakukan penyerangan pelemparan batu. Kapolres bersama 10 orang petugas gabungan dari Polisi, Brimob, dan TNI mencoba menghalau massa sambil bernegosiasi dengan massa. “Saya Kapolres, mohon jangan melempar.” Massa berhasil dihalau.

Sementara, massa dari titik kedua mulai merangsek masuk jalan samping Koramil. Kapolres beranjak ke titik massa kedua, “Dikhawatirkan massa itu akan menerobos masuk ke arah lapangan Koramil.” Kapolres kembali melakukan negosiasi dengan memegang megaphone yang dibawa oleh massa yang ingin menghentikan shalat Ied.  “Saya Kapolres, saya sudah koordinasi dengan Bupati dan Presiden GIDI.”

Saat negosiasi itu, terdengar suara letusan tembakan. Kapolres beranjak dari titik kedua menuju titik massa pertama untuk mencari sumber suara tembakan. Namun, gelombang massa titik pertama ini kian besar diperkirakan Kapolres mencapai 500 orang. Sementara di saat yang sama, kepulan asap sudah meninggi dari arah kios milik Pak Sarno yang juga ketua DKM Baitul Muttaqin yang berjarak sekitar 20 meter dari masjid.

Hal ini dibenarkan Pak Sarno, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Baitul Muttaqin yang ditemui TPF, “Titik pertama memang berada di kios saya. Itu pun sebenarnya, aksi pembakaran itu sudah dihalau oleh tokoh tua GIDI.”

Kapolres yang masih menghalau gelombang massa di titik pertama mengaku mendapatkan pukulan di dada kiri. Bahkan, Kapolres menyaksikan, Bupati yang datang menghalau massa itu diabaikan, bahkan sempat terdorong desakan massa. Setelah itu, Kapolres mengaku tak lagi melihat keberadaan Bupati.

Menurut Kapolres, kebakaran yang menghanguskan 64 kios di tanah (Informasi dari Panitia Pemulihan Tolikara) seluas sekitar 4000 m2 itu berlangsung selama 2 jam. Setelah kejadian itu, Kapolres mengaku mendapatkan informasi ada korban luka tembak yang dibawa ke rumah sakit di Wamena.

Tentang luka tembak ini, berdasarkan berita yang dimuat di koran Cenderawasih Pos, 29 Juli 2015. Keterangan dari dokter menyatakan, luka tembak pada korban itu berasal dari pecahan proyektil ditembakkan ke bawah (richocet).*
Sumber: www.hidayatullah.com
22:03 | 0 comments | Read More

[Inspirasi] 5 Tahun Putus Sekolah, Seorang Pengamen Lulus SMPTN ke Universitas Indonesia

Berangkat dari keluarga sederhana, Dzulfikar Akbar Cordova atau kerap disapa Dodo (21 tahun) berhasil duduk di bangku kuliah. Yang menggembirakan lagi, anak pertama dari tiga bersaudara ini berhasil masuk di salah satu perguruan tinggi negeri bergengsi, Universitas Indonesia, melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Saat ujian, dia harus bersaing dengan ribuan siswa lain di seluruh Indonesia berasal dari berbagai sekolah.

Siapa sangka jika Dodo hanyalah siswa Sekolah Masjid Terminal (Master) yang merupakan sekolah terbuka di Depok. Berbeda dengan sekolah umumnya yang menjalani proses belajar intensif, Dodo justru belajar dalam waktu singkat.

"Saya hanya satu tahun belajar di Master karena saya masuk langsung kelas III. Pertama kali datang ke Depok dan masuk Master bulan Juli 2014," kata Dodo saat ditemui di Universitas Indonesia (UI) Depok, Rabu (29/7).

Ketika mengikuti ujian, Dodo mengaku sedikit khawatir karena saingan masuk ke kampus bergengsi itu sangat banyak. Namun, Dodo memiliki tekad membuat keyakinannya buat bisa tetap sekolah. Perjalanan hidupnya bukan tanpa rintangan. Dia sempat merantau ke Sumatera dan lama menetap di Lampung buat bisa bertahan hidup.

"Semua Sumatera hampir saya datangi. Tapi saya lama di Lampung," ujar Dodo.

Selama merantau bersama Lukmanul Hakim (48 tahun) dan satu orang adiknya, Dodo bekerja serabutan buat tetap bertahan hidup. Segala macam pekerjaan digeluti. Mulai dari berjualan, mengamen, hingga menjadi kuli bangunan.

"Yang penting bisa buat hidup kak. Tujuan saya dan keluarga merantau dari Bondowoso kan untuk memperbaiki hidup," lanjut Dodo.

Hidup di jalanan bukanlah hal baru bagi Dodo dan keluarga. Menjadi pengamen di angkutan kota (angkot) telah dilakoni sejak 2006. Saat itu usianya baru sebelas tahun. Niatannya bersekolah lagi muncul ketika membaca berita di sebuah media massa mengupas profil Sekolah Master.

"Saya merasa sekolah ini cocok untuk orang seperti saya. Saya minta izin ke bapak saya dan diperbolehkan," lanjut pria kelahiran 21 Juli 1994 itu.

Dodo lantas datang ke Sekolah Master pada Agustus 2014, dan langsung ditempatkan di kelas III. Kemudian, Dodo ikut seleksi program Intensif Master Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) pada dua bulan kemudian. Dalam kegiatan itu, Dodo dan enam rekannya dari Sekolah Master belajar intensif di Perpustakaan Fakultas Ekonomi UI, Depok.

"Kita dibimbing oleh kakak-kakak mentor dari UI," tambah Dodo.

Dodo juga kerap belajar di luar UI. Selepas mengamen, dia kembali belajar di rumah dikontrak bersama keluarganya. Pada 9 Juni, dia mengikuti seleksi ujian bersama.

"Modalnya saya yakin dan percaya. Dan saya enggak bawa stres sebelum ujian," ucap Dodo.





Selama intensif belajar di UI, Dodo harus rela memangkas waktu mengamen. Namun, jika tidak sedang belajar, dia memilih menjajakan kemahirannya bernyanyi di angkot trayek Depok-Pasar Rebo atau Depok-Pasar Minggu. "Saya ngamen bareng adik. Kalau ayah saya enggak kerja lagi," jawab Dodo.

Pengalaman buruk saat mengamen sudah dirasakan Dodo. Pernah suatu waktu dia terjaring razia petugas. Hal itu terjadi sehari sebelum pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri pada 9 Juli lalu.

"Saya kena razia Satpol PP di Pasar Rebo pada 8 Juli. Kemudian dioper ke Dinsos Cipayung. Saya di sana selama tiga hari. Jadi pas pengumuman saya lagi ada di dinsos," kenang Dodo.

Perjuangan Dodo bersusah payah mencari nafkah dan menuntut ilmu akhirnya terbayar. Dia berhasil masuk kuliah di kampus kuning itu. Ini merupakan gambaran masih adanya semangat dari anak muda sederhana buat meraih cita-cita. Tak peduli latar belakangnya apa, Dodo patut menjadi salah satu teladan anak muda Indonesia.

Sumber: www.merdeka.com
21:45 | 0 comments | Read More

Wahai Pemuda, Yuk Berkontribusi …

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Friday, May 29, 2015 | 13:41


“Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, tetapi yang bermanfaat bagi manusia akan tetap bertahan di muka bumi. Demikianlah Allah telah memberikan perumpamaan.” (Ar-Ra’d : 17)

Sahabatku, kita sering mendengar ilustrasi rumus BCD untuk menggambarkan kehidupan kita. B adalah Birth (Hidup), D adalah (Death), dan di antara keduanya ada C (Choice). Kita telah terlahir ke dunia ini dan kelak kita akan mati, di antara dua masa ini kita diberikan kesempatan untuk memilih. Seperti firman Allah di atas, kita bisa memilih di antara dua hal; menjadi buih yang hidupnya berlalu tanpa arti atau menjadi orang yang bermanfaat bagi manusia.

Sahabatku, tentu kita akan mengambil pilihan yang kedua; menjadi orang yang bermanfaat bagi manusia. Lantas, pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan untuk menjadi orang yang bermanfaat itu?
Tak ada syarat yang rumit, cukuplah kita berkontribusi dengan apa saja yang bisa kita lakukan. Meskipun sederhana. Meskipun dianggap kecil. Yang penting itu bermanfaat untuk umat. Yang penting itu adalah kebaikan dan kebenaran. Bukankah kita tahu bahwa sekadar menyingkirkan batu dari jalanan juga tercatat sebagai kebaikan karena membawa kesalamatan bagi orang banyak?

Sahabatku, Allah telah memberikan kepada kita potensi yang besar. Allah telah melengkapi kita dengan sumber daya yang luar biasa. Maka, hendaknya kita pergunakan itu semua dalam rangka menyembah kepada-Nya, mengagungkan nama-Nya di muka bumi, dan meninggikan agama-Nya. Itulah tugas kita.

Bagi kita, para pemuda, Allah telah mengucurkan nikmat yang amat besar. Jika saja diperkenankan, maka manusia akan meminta kepada Allah agar ia tetap berusia muda, tak pernah menua. Namun, sudah menjadi sunnatullah, setiap manusia akan menua. Maka, tugas manusia bukanlah menyesali keadaan ini, tapi melalui momen yang sekali lewat ini dengan sebaik-baiknya.

Wahai para pemuda yang merindukan kesuksesan sejati, ketahuilah kesuksesan sejati adalah ketika engkau tercatat sebagai orang yang berkontribusi besar untuk umat. Engkau dikatakan sukses apabila ketika engkau mati, orang-orang yang mendatangimu menjadi saksi bahwa engkau adalah pelaku kebaikan yang bermanfaat hidupnya. Bukan ukuran sukses bagi seorang muslim bila hanya memiliki harta yang banyak dan popularitas yang melambung. Satu-satunya ukuran sukses bagi seorang muslim adalah kontribusinya untuk umat. Tentu, niatnya adalah ikhlas untuk mengharapkan ridha Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala kelak tidak akan mempertanyakan seberapa banyak harta yang bisa kita kumpulkan, tidak pula seberapa tinggi jabatan duniawi kita, tapi seberapa besar kontribusi yang kita sumbangkan menggunakan nikmat-nikmat-Nya.

Wahai para pemuda; yuk, kita tekadkan untuk berkontribusi di dalam kehidupan kita. Mari kita torehkan manfaat dari diri kita untuk umat. Semoga, kelak Allah mencatat kita sebagai bagian dari hamba-Nya yang melalui kehidupan dengan sebaik-baiknya. Sehingga, Allah pun melengkapi nikmat-Nya dengan hadiah surga serta segala keindahan di dalamnya. Amiin. (Dakwatuna)
13:41 | 0 comments | Read More

Ketentuan Lomba Tarhib Mentari Ramadhan 1436 H

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Thursday, May 14, 2015 | 15:25

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Klik Gambar Untuk Perbesar

Jadwal Pelaksanaan Lomba
            Hari/Tanggal   : Ahad, 7 Juni 2015
            Waktu                        : 08.00 – Selesai (peserta wajib hadir tepat waktu)
            Tempat              : Mesjid Baiturrahman Istana Cipanas

Pendaftaran          
Pendaftaran seluruh mata lomba ditutup pada tanggal 31 Mei 2015.
Pendaftaran dilakukan Via sms dengan cara Ketik : Daftar_Nama_AsalSekolah_MataLomba Kirim Ke : 085697047440
Perlombaan ini tidak dipungut biaya (Gratis) dan masing-masing peserta hanya diperkenankan mengikuti 1 mata lomba

Susunan Acara Kegiatan
08.00-09.30   : Pembukaan
08.30-09.00   : Taujih
09.00-11.00    : Perlombaan
11.00-11.30       : Pengumuman dan Penutup

Juklak Perlombaan
a.    Lomba Tahfidz
-         Ketentuan Umum Lomba
a.      Peserta adalah Siswa-siswi SMP/SMA/Sederajat
b.      Surat-surat yang diuji yaitu juz 30

-         Teknis Perlombaan
a.      Penentuan Nomor Urut Peserta yang akan dipanggil berdasarkan pada pengundian sebelum perlombaan
b.      Surat yang dihafal terdiri dari surat wajib dan surat pilihan
c.        Surat wajib adalah Q.S Adh-dhuha
d.      Surat Pilihan dipilih berdasarkan undian yang diambil peserta juri membacakan sedikit potongan surat yang diuji kemudian dilanjutkan oleh peserta lomba

-         Kriteria Penilaian
a.      Tajwid
b.      Makhorijul dan Shifatuk Huruf 
c.        Kelancaran Bacaan

b.    Lomba Kalighrafi
-         Ketentuan Lomba
1.        Durasi Waktu pembuatan karya lomba kaligrafi adalah 2 jam
2.       Peserta membawa peralatan sendiri
3.       Jenis pewarnaan bebas ( kerayon, cat air, cat minyak, spidol warna )
4.       Kaligrafi minimal dibuat dengan ukuran HVS dan diatas kertas karton atau yang sejenis
5.       Peserta yang terlambat tidak diberikan waktu tambahan
6.       Karya merupakan hasil karya orisinil tanpa bantuan orang lain
7.       Tidak diperkenankan membawa mal tulisan kaligrafi sendiri
8.       Peserta yang menyalahi aturan akan didiskualifikasi
9.       Lafadz yang dituliskan adalah ayat Al-Qur’an yang ditentukan masing-masing peserta dengan tema ‘kemuliaan akhlak’
10.   Hal-hal lain yang kurang jelas dapat dikonfirmasi kepada panitia
11.      Jumlah Peserta dibatasi sampai 20 orang

-         Kriteria Penilaian
a.      Tulisan
b.      Pewarnaan
c.        Harmonisasi & estetika
d.      Makna Kaligrafi

c.      Lomba Deklamasi Puisi
-         Ketentuan Umum
a.       Puisi di buat oleh panitia, puisi bisa di akses di ypr-mentari.blogspot.com dan di fb Ypr Mentari Cianjur
b.      Peserta terdiri dari perseorangan.
c.       Durasi perorangan maksimal 10 menit.
-         Kriteria Penilaian
a.      Penghayatan
b.      Penampilan
c.        Intonasi
d.      Pelafalan
e.       Vokal
f.        Mimik

-         Puisi Yang Disediakan
a.      judul puisi        : airmata alquran
oleh                 : Nabila
aku adalah sesuatu yang akan
membawamu kejalan yang
lurus..
andai aku bisa bicara,dan
andai aku bisa menangis…
aku ingin bicara kepadamu…
aku berharap kepadamu..
agar kamu tidak lebih
mementingkan duniamu
melainkan pentingkanlah
akhiratmu…
aku ingin menangis…
menangis disaat kau telah
melupakanku..
dulu,ketika kau kecil kau selalu
menyentuh hingga membaca
dan menyayangiku..
Tapi kini…
kini kau telah dewasa..
dan dan kau selalu
mementingkan dirimu sendiri
hingga kau lupa kewajibanmu
untuk membaca dan
menyayangiku…
kini kau lupa dengan ku..
dan kau tega menyimpanku
di pojokkan yang penuh debu…
kini badanku tertutupi
debu,dan
badanku kini telah terobek-
robek
seperti sampah kertas yang
dibuang dengan sengaja…
aku mohon…
bacalah aku dan sayangi aku…
apa salahku? sehingga kau
tega
melupakanku begitu saja…

b.      judul puisi : puisi masa alfatihah - anonim.
Tulisku barisan bisu
Membungkam bahasa kelu
Lahirkan bait-bait puisi dalam
kemarau
Lihatku secercah cahaya
Cahaya pencerahan menggapai
hakekat
Ta’awudz,
Al Fatihah…
Dengan nama Allah, penuh kasih
penuh sayang
Segala pujiku
Tuhan semesta alam
Pemilik hakekat, tubuh tak
bermakna
Penyempurna segala alam
perwujudan
Tuhanku
Penguasa hari pembalasan
Izinkanku berdoa karena diri
hilang bentuk
Sembahku
Tuhan maha penyayang
Tempat keluh kesah umat
manusia
Dan memohon perlindungan
Bimbinglah kami ke lebuh
lempang
Menjejaki siapa yang kau beri
hati
Bukan yang kau dera dengan
kemurkaan
Bukan pula yang hilang jalan
Subhanallah walhamdulillah walaa
ilaaha illallah allahu akbar… !!!
Ku kutip dari pena ilahi yang
maha suci
Dengan menyebut nama Allah
yang maha pengasih, lagi
penyayang
Diceritakan dari suhuf-suhuf yang
bertumpuk pelan disudut bilik
rindu
Demi kuda perang yang berlari
kencang terengah-engah
Dan kuda yang memercikan
bunga api dengan pukulan kuku
kakinya
Dan kuda yang menyerang tiba-
tiba diwaktu pagi
Sehingga menerbangkan debu
Lalu, menyerbu ke tengah-tengah
kumpulan musuh
Sungguh…!!! Manusia itu sangat
ingkar, tidak bersyukur kepada
Tuhannya…!!!
Dan sesungguhnya dia mengakui
keingkarannya
Dan sesungguhnya cintanya pada
harta benar-benar berlebihan
Maka tidaklah mereka
mengetahui, apabila apa yang di
dalam kubur dikeluarkan
Dan apa yang di simpan di dalam
dada dilahirkan?
Sungguh, Tuhan mereka pada
hari itu Maha teliti terhadap
keadaan mereka.

d.      Membuat Minuman Ta’jil
-         Ketentuan Umum
1.        Peserta terdiri dari 1 tim yang terdiri dari 2 orang
2.       Tema Perlombaan ‘Membuat Ta’jil Minuman Manis’

-         Ketentuan teknis Perlombaan
1.        Setiap tim bebas berkreasi sesuai tema yang sudah ditentukan dan menentukan judul hidangan ta’jil minuman manis yang akan dibuat
2.       Tim menyiapkan sendiri bahan-bahan dan alat yang akan dibuat  dan diperlukan untuk hidangan
3.       Waktu yang disediakan 45 menit
4.       Peserta yang terlambat tidak diberikan waktu tambahan

-         Kriteria Penilaian
a.      Rasa
b.      Tampilan
c.        Kreasi
d.      Presentasi

15:25 | 0 comments | Read More

Mentoring, Apaan Tuch?

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Monday, April 20, 2015 | 11:45


Salah satu produk dari Yayasan Peduli Remaja Mentari adalah Mentoring, tapi sebenarnya kamu tahu gak sech Mentoring itu apaan?

Admin ngambil referensi umum saja dari Wikipedia:

Mentoring Agama Islam adalah kegiatan pendidikan dan pembinaan agama Islam dalam bentuk pengajian kelompok kecil yang diselenggarakan rutin tiap pekan dan berkelanjutan. Tiap kelompok pengajian terdiri atas 3-10 orang, dengan dibimbing oleh seorang pembina. Kegiatan sering disebut juga dengan Dakwah Sistem Langsung (DSL). Kegiatan ini bisa juga dijelaskan sebagai pembinaan agama melalui pendekatan kelompok sebaya.

Kegiatan ini dianggap menjadi salah satu metode pendekatan pembinaan agama dan moral yang efektif, karena cara dan bentuk pengajarannya yang berbeda dengan pendidikan agama secara formal di kelas-kelas sekolah. Di beberapa sekolah dan daerah, kegiatan ini terbukti dapat mencegah tawuran pelajar sekolah.

Pembina sebuah kelompok mentoring disebut mentor (bahasa Inggris: penasehat), sedangkan peserta mentoring disebut mentee (baca: mentii).

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Mentoring_agama_Islam

Nah Sobat Mentari, ngerti kan fungsinya ikutan Mentoring? Makanya ikutan yuks acara tiap 2 Pekan Sekali acara di Islamic Sunday Mentari ^_^
11:45 | 0 comments | Read More

MUI, Kasus Pesta Seks Pelajar Setelah UAN : Pendidikan Di Indonesia Kering Akhlak

Ketua Komisi Bidang Pendidikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anwar Abbas merasa sangat prihatin atas kejadian memalukan yang dilakukan oleh puluhan pelajar di Kabupaten Kendal.
Pasalnya, sebagaimana yang diberitakan beberapa media massa, puluhan pelajar terjaring razia satuan polisi pamong praja (Satpol PP) saat hendak melakukan pesta seks di kawasan pantai Muara Kencan, Desa Pidodowetan, Kecamatan Patebon, Kendal, Kamis (16/04/2015) lalu. 
Saat dirazia, di antara mereka ada yang tak mengenakan sehelai benang pun alias telanjang. Tidak menutup kemungkinan para pelajar itu sudah melakukan persetubuhan.
Sebagaimana dilansir JPNN salah satu pelajar yang ikut terjaring razia, sebut saja Luluk (18), warga Gondang Kecamatan Cepiring, mengaku hanya diajak pacarnya. Ia justru tak menyangka jika ternyata ada razia oleh Satpol PP.
“Peristiwa tersebut betul-betul memprihatinkan. Perbuatan itu sudah jelas salah,” kata Anwar kepada hidayatullah.com, Sabtu (18/04/2015).
Namun, menurut Anwar, kesalahan  tersebut tidak bisa hanya ditimpakan kepada puluhan pejalar itu. Sebab, lanjutnya, itu juga adalah kesalahan dari orangtua, keluarga, masyarakat, guru serta pemerintah.
“Pendidikan kita saat ini kering dari nilai dan akhlaq, yang diajarkan hanya ilmu dan pengetahuan,” ungkap Anwar.
Lebih lanjut lagi, Anwar mengatakan, saat ini pihak orangtua kebanyakan tidak mendidik anak-anaknya dengan akhlak. Sementara, di sekolah masalah akhlak meski sudah diajarkan, tetapi pelajaran yang mereka dapat dari kehidupan sehari-hari sangat jauh berbeda dengan yang mereka terima dari sekolah.
“Mereka melihat dari sinetron dan dari internet hal-hal yang tidak baik dan tidak benar sehingga terjadilah penipisan iman dan menebalah dalam diri sikap-sikap yang tidak terpuji dan terjadilah hal-hal yang tak diinginkan tersebut,” ungkap Anwar.
Untuk itu ke depan, bagi kebaikan generasi mendatang dan terciptanya keluarga yang berakhlak, Anwar menyarankan supaya tidak hanya menyerahkan masalah pendidikan para generasi muda kepada sekolah tetapi juga bagaimana dapat memfungsikan keluarga sebagai tempat pendidikan pertama dan utama.
“Kemudian bagaimana masyarakat bisa berperan aktif dalam memberikan pendidikan kepada mereka dengan fungsionalisasi masjid dan mushola serta tempat-tempat peribadatan dan karang taruna,” imbuh Anwar.
Dan dalam skala makro pemerintah melalui kekuasaan harus membuat kebijakan-kebijakan yang mampu menghindarkan generasi bangsa dari hal-hal yang tidak baik, menyangkut akhlak serta moral terutama yang berhubungan dengan masalah pergaulan.
“Dan segala sesuatu yang akan mendorog mereka untuk melakukan praktek prilaku yang menyimpang,” pungkas Anwar.* (Hidayatullah Online)

11:37 | 0 comments | Read More

Mentoring di Islamic Sunday Mentari: Tempat Yang Asyik 'Tuk Membentengi Pelajar dari Pergaulan Bebas

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Thursday, April 16, 2015 | 14:19

Bismillahirrahmanirrahim ...
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hallo apa kabar Sahabat Pelajar Mentari? semoga kesehatan senantiasa tercurahkan dari Allah SWT kepada sahabat semua.

Dear Sobat ...
Admin Blog ini lagi galau berat nech ... liatin pergaulan Pelajar saat ini yang sudah berani terang-terangan berciuman di Tempat Umum. Mau liat buktinya silahkan lihat gambar dibawah ini:


Astaghfirullah ... Foto itu Admin dapatkan dari Gambar yang secara Viral menyebar di Sosial Media. Kok bisa yah Pelajar yang menggunakan Seragam Pramuka dan Kerudung itu berciuman di tempat terbuka seperti itu? Pasti ada penyebabnya dan tentunya sebagai orang Islam kita harus melihat segala sesuatu berdasarkan Pandangan Syariat.

Kalau dilihat dari gambar terlihat perempuannya pasif dan yang agresif adalah lelakinya dan memang berdasarkan artikel yang Admin sering baca, gaya berpacaran Pelajar saat ini yang menjurus pada Seks Pra Nikah karena dimulai oleh Pacar Lelaki yang lebih agresif untuk memulai perbuatan menjurus Zina tersebut. Sedangkan Perempuan cenderung pasif, tapi kalau mereka diam itu tanda setuju untuk berbuat maksiat ... Naudzubillah :(

Padahal jika terjadi Kehamilan Pra Nikah maka yang menjadi Korban adalah Perempuan karena mereka harus mengandung Janin yang belum dipersiapkan secara matang.

So Guys ... gak mau kan kejadian Hamil sebelum Nikah kejadian? dan dampak buruk yang diakibatkannya, seperti: Terputusnya Sekolah dan hancurnya masa depan yang dicita-citakan.
Oleh karena itu, tidak ada cara lain kita harus membentengi diri kita dengan mengaji Ilmu Agama lebih dalam. Dan bersama Islamic Sunday Mentari ini kita bisa dapatkan filter (penyaring) berupa Ilmu Agama agar kita terjaga dari Pergaulan Bebas yang menjurus pada Seks Pra Nikah yang dalam agama disebut Zina.

Beuhh ... serem banget yah kalau sampai berzina, dah tau lum hukum berzina? Dosanya besar banget ... Oleh karena itu ayo gabung Islamic Sunday Mentari yang diselenggarakan 2 kali dalam sebulan di Mesjid Baiturahman Istana Cipanas - Cianjur.

See U There Sob disana yah ... ^_^
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

14:19 | 0 comments | Read More